Jakarta, Beritamerdekaonline.com – Aksi Indonesia Gelap, yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), menuai sorotan tajam. Gerakan nasional ini menolak efisiensi anggaran yang direncanakan pemerintah, namun muncul dugaan bahwa aksi ini ditunggangi kepentingan asing.
Dugaan ini mencuat karena langkah Indonesia mengelola hasil tambang secara mandiri melalui hilirisasi minyak mentah dinilai merugikan negara lain. Singapura negara kecil disebut paling terdampak karena selama ini menjadi pengolah minyak mentah Indonesia.
Kebijakan hilirisasi yang diusung pemerintah bertujuan memperkuat ekonomi dalam negeri, namun memicu ketidakpuasan pihak asing yang kehilangan keuntungan besar. Analis politik menilai aksi penolakan efisiensi anggaran ini bukan sekadar gerakan mahasiswa, melainkan bisa jadi dipengaruhi oleh kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia mandiri secara ekonomi.
Presiden Prabowo Subianto berencana membangun 15 mega proyek menggunakan anggaran efisiensi, yang diproyeksikan menyerap jutaan tenaga kerja lokal Indonesia. Proyek ini dipandang mengancam kepentingan pihak asing dan oknum dalam negeri yang selama ini menggunakan sumber daya Indonesia untuk keuntungan pribadi.
Analis memperingatkan, “Pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan Indonesia pada pengolahan luar negeri kemungkinan menggunakan berbagai cara untuk menghambat mega proyek tersebut, termasuk menggunakan mahasiswa sebagai alat gerakan politik.”
Sementara itu, BEM SI membantah keras tudingan bahwa mereka ditunggangi kepentingan asing. Koordinator BEM SI menyatakan, “Aksi Indonesia Gelap murni untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan mengkritisi kebijakan efisiensi anggaran yang dinilai berpotensi mengurangi kesejahteraan masyarakat.”
Namun, pengamat politik mengingatkan agar BEM SI berhati-hati dan tidak dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki agenda tersembunyi. (@mos)

Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan