Bengkulu, BM – Ratusan massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bengkulu menggelar aksi demo soal isu kelompok taliban ditubuh KPK di depan Kantor DPRD Provinsi Bengkulu sempat ricuh.
Awal mula kerincuhan ini terjadi saat peserta aksi demo sudah lama menunggu Anggota DPRD Provinsi Bengkulu meminta untuk menemui peserta aksi diluar.
“Jika wakil rakyat kita yang telah kita pilih tak mau keluar menemui kita, rapatkan barisan maju satu langkah sahabat-sahabat,” ujar salah satu orator aksi Goang Ginaldi, Senin (23/9/2019).
Demo tersebut, lanjutnya, diwarnai aksi dorong-dorongan dengan aparat kepolisian hingga sempat ricuh, terbukti salah satu peserta aksi demo mengalami sobekkan dibaju milik sahabat Bayu Sugara saat aksi dorong-dorongan tersebut terjadi.
“Kami sangat menyayangkan sikap aparat kepolisian tersebut, hingga menyebabkan baju sahabat kami Bayu Sugara itu sobek,” keluhnya.
Sementara itu, demo juga diwarnai aksi bakar ban yang merupakan simbol sudah matinya KPK.
“Dengan dibakarnya ban ini merupakan simbol sudah mati KPK,” sampai Ketua Umum Cabang PMII Bengkulu Al-Mubdi’u yang merupakan salah satu orator aksi.
Sudah menunggu lama akhirnya Anggota DPRD Provinsi Bengkulu menemui peserta aksi dan akan menyampaikan 4 point pernyataan sikap soal KPK tersebut kepada DPR RI, adapun 4 point tersebut adalah sebagai berikut :
1. Meminta KPK untuk tidak menjadi alat politik dan bermain politik dalam pemberantasan korupsi.
2. Mendesak segera diberhentikan Pimpinan KPK periode 2014-2019 dan segera lantik Pimpinan KPK periode 2019-2024.
3. Mendukung dan siap mengawal revisi UU KPK yang baru.
4. Sterilkan KPK dari oknum-oknum yang tidak mengatasnamakan keadilan.
Dari pantauan media ini, usai menyerahkan 4 point pernyataan sikap tersebut kepada Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, peserta aksi pun membubarkan diri. (BM)




Tinggalkan Balasan