SEMARANG, Beritamerdekaonline.com – Getaran dan asap debu yang berasal dari pabrik kayu di Jalan Padi Raya Kelurahan Gebangsari, Kecamatan Genuk Kota Semarang dikeluhkan para siswa dan warga yang beraktivitas di dekat pabrik tersebut.
Waka Sarpras SMAN 10 Semarang, Subuh Jaelani kepada awak media menyampaikan, banyak siswa mengeluhkan adanya getaran dan debu yang berasal dari pabrik kayu tersebut. Ia mengatakan, pihak sekolah sudah pernah menyampaikan komplain ke pihak pabrik agar aktivitas yang menimbulkan getaran supaya dilakukan setelah proses belajar mengajar selesai.
“Dulu pernah mengajukan semacam surat ketidakpuasan atau apa itu ke Excelindo, jadi yang pertama itu memang asap, bau ovenan itu pak, asap itu tidak hanya sekedar asap pak, ada kayak partikel-partikel dari kayu itu,” ungkapnya.
“Kalau dulu itu pernah kami komplain itu mereka operasional setelah kami pulang sekolah. Begitu berganti pemilik itu jam ovennya itu setiap saat, jadi malah lebih parah. Kemudian juga suara menurunkan lognya itu kayak geluduk itu, sehingga kemarin itu dari pihak gereja juga komplain karena ada beberapa yang retak, masjid kami juga plafonnya itu runtuh karena getarannya itu,” tambah Subuh.
Subuh berharap, pihak pabrik bisa mendengarkan keluhan para siswa dan warga yang berkegiatan dekat dengan lokasi perusahaan pengolah kayu tersebut.
“Siswa itu mengeluh langsung ke kami ke guru, juga kami setiap jam-jam itu asapnya tebel. Pernah kami protes dan melayangkan surat bersama SMP 20 itu jawabannya ya pak kami perbaiki cerobongnya,” ucap Subuh.
Subuh mengakui, beberapa bangunan tembok yang sempat mengalami retak-retak pernah dikomplainkan ke perusahaan dan sudah mendapatkan ganti.
Keluhan yang dirasakan para siswa menurut Subuh adalah asap debu yang masuk ke kelas sehingga sangat mengganggu proses belajar mengajar. Selain itu, Subuh juga menghawatirkan dampak kesehatan bagi para siswa kedepannya jika polusi udara itu masih terus terjadi.
“Kalau bisa jam operasional setelah siswa pulang sekolah. Sehingga tidak memberikan dampak kepada para siswa,” ucapnya.
Keluhan yang sama juga dirasakan oleh pihak gereja yang bangunannya bersebelahan dengan pabrik tersebut. Karena letaknya persis disamping pabrik, getaran dan debu sangat terasa dan mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah Paud dan TK yang juga berada di lingkungan gereja.
“Saya dapat informasi dari mas Harmoko Kosternya yang tunggu di sini juga dari guru-guru yang pagi itu ya, sini sih fluktuatif kalau yang di sini, kalau yang pagi tergantung kalau di situ sedang log kayu-kayunya banyak itu seringkali anak-anak terganggu dari getaran, terus kalau pas cerobong asap itu beroperasi. Kalau dulu itu pendek banget jelas berdampak sekali, sekarang sudah tinggi tetapi juga masih dapat informasi dari guru-guru kadang-kadang asapnya turun juga di sini cuma memang intensitasnya lebih kurang dari dulu,” ungkap Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Genuk Indah, David Christianto.
Pendeta David menceritakan, akibat adanya getaran yang ditimbulkan dari pabrik kayu itu, plafon atas bangunan di lingkungan gereja sampai jatuh, namun semua itu sudah diperbaiki sendiri oleh pihak gereja. Bahkan ketika awak media melihat langsung ke lokasi Paud dan TK di lingkungan GKI Genuk Indah, masih terlihat beberapa retakan kecil yang diduga disebabkan oleh getaran dari pabrik tersebut.
“Ini sekarang sudah diperbaiki sendiri. Kalau dari pihak sekolah minta kompensasi ditanggapi, tapi kalau dari gereja belum dapat. Waktu itu sih ada pertemuan gitu tho, keluhan yang sama jadi ada yang ngumpulin gitu, dari paud masalahnya apa, dari gereja apa, dari sekolah SMA, SMP itu apa, masyarakat terdekat apa, tapi itu sekitar dua tahun yang lalu,” terangnya.
Pendeta David berharap, perusahaan segera merespon keluhan dari masyarakat. Dia mendesak adanya langkah konkret dari perusahaan karena dampak dari getaran dan debu sangat mengganggu proses belajar mengajar di Paud dan TK yang ada di lingkungan gereja serta di SMA 10 dan SMP 20 yang letaknya tidak jauh dari pabrik tersebut.
“Ya mereka lebih ini aja ya, apa yang dibutuhkan supaya misalnya untuk log kayu bisa diatur sedemikian rupa supaya tidak membuat getaran yang besar, terus masalah debu diatasi supaya tidak mengganggu, kan kadang-kadang tuh kan tergantung angin ya, kalau pas turun pas musim kemarau kelihatan banget,” ungkapnya.
Sementara itu, Lurah Gebangsari, Gunarto didampingi Kasi Trantib Rusito saat dimintai tanggapannya terkait masalah tersebut mengatakan, selama ia menjabat Lurah di wilayah tersebut belum pernah ada keluhan dari masyarakat yang masuk. Namun jika nantinya terjadi permasalahan, pihaknya akan menjembatani masing-masing pihak untuk mencarikan solusi terbaik agar tidak merugikan salah satu pihak.
“Saya di sini baru ya, saya di Kelurahan Gebangsari baru 1 September. Dan untuk perkembangan masalah pabrik itu sudah ada penanganan temen-temen sebelum saya sudah ada penanganan,” ucap Gunarto.
“Kita belum pernah menerima aduan pak, selama saya di sini lho dari 2021 akhir itu belum pernah,” tambah Kasi Trantib Kelurahan Gebangsari, Rusito.
Menanggapi adanya keluhan dari beberapa pihak yang merasa terganggu adanya aktivitas pabrik, Direktur Operasional PT EMP, Rokhim didampingi HRD, Yakub saat dikonfirmasi awak media di kantornya pada Selasa 31 Januari 2023 menyampaikan bahwa selama ini tidak ada masalah yang terjadi di lingkungan perusahaannya. Menurutnya, permasalahan itu sudah ditangani satu tahun lalu.
“Kalau keluhan itu secara langsung saya juga tanya ke RT-RT, mereka sebelumnya tidak menyampaikan keluhan ya, saya tahu ada satu orang saja, la itu yang seringkali keluhannya kok sama yang dulu. Waktu itu kita ada pertemuan di kelurahan, ada pertemuan bersama-sama kita menemukan titik temu, sudah ada perbaikan, sudah ada perubahan, sudah ada sebuah kemajuan kalau saya melihatnya, lha tapi kemudian kok persoalannya kembali ke dua tahun lagi, mundur lagi padahal kita sudah melakukan perbaikan,” ucap Yakub.
“Kami sudah handel dan bekerja sama dengan LPMK, saya juga komunikasi dengan pak Lurah. Jadi semua hal itu sebetulnya kan ada ketidakpuasan satu dua orang mungkin iya, tapi secara rata-rata kami mencoba mencari akan informasi-informasi. Dari Dinas kesehatan memberikan laporan, apakah ada warga di sekitar RT dan RW ini mengalami sakit penyakit gangguan pernafasan, dicek tidak ada. Berarti tidak ada gangguan sakit pernafasan itu, mungkin secara gangguan atau istilahnya ketergangguan yang lain mungkin iya, tapi secara sakit kan tidak ada,” tambah Yakub.
Terkait kebisingan yang dikeluhkan warga, Yakub menampik semua itu.
Bahkan, ia juga mempersilahkan masyarakat mengecek, apakah suara mesin itu mengganggu.
“Jarak sekian aja kita gak ada bunyi. Lha itu kan kita cek, kemudian yang lapor itu jarak berapa meter. Kita pun sudah mengkomunikasikan dengan pihak sekolah. Kita bekerja sama dengan pihak sekolahan. Kita juga membuat semacam agreement deal-deal ya, oke jam sekian sampai jam sekian kami tidak akan operasikan mesin yang seperti ini. Kami akan ganti mesin yang lebih tidak menimbulkan suara, itu sudah ada dan kami sudah bersepakat,” kata Yakub.
Mewakili perusahaan, Yakub membuka diri dan meminta kepada warga atau pihak-pihak yang masih mengeluh supaya bisa menyampaikan masukan kepadanya agar dicarikan titik temu.
“Kita tidak tinggal diam, terus kemudian dari anak-anak siswa sini kita bantu, kita sumbang. Kita juga adakan vaksinasi massal melibatkan sekolah-sekolah, jadi kerja sama-kerja sama kita meningkat. Mungkin jika beberapa dirasa kurang ya kami kasih masukan, masukan akan kita tampung, kita akan buat semacam istilahnya titik temu, oh kegiatan yang paling enak paling pas itu apa,” pungkasnya. (lim)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan