JAKARTA, Beritamerdekaonline.com – Dalam mengendalikan dan mengantisipasi lonjakan harga pangan, pemerintah diminta perhatikan kecukupan stok beras. Pernyataan tegas itu, dilontarkan oleh Sekretaris Lembaga Riset Internasional Pembangunan Social Ekonomi Dan Kawasan IPB, Widyastutik.

“Harus meningkatkan produksi dan produktifitas pangan. Data produksi November-Desember produksi beras kecil, karena perubahan iklim,” kata Widya, Minggu (29/10/2023).

Widya menilai, kenaikan harga beras saat ini merupakan sebuah sinyal. Bahwa, suplai demand di masyarakat akan beras sedang bergejolak.

“Pemerintah sudah menggelontokan stok (beras) meski belum mampu tekan harga. Kami sudah ada kajian dengan Bank Indonesia (BI), terksit kluster ketahanan pangan beras,” ucap Widya.

Lonjakan harga beras ini, menurut Widya, tidak telepas dari ketergantugan dan kebiasaan masyarakat Indonesia mengkonsumsi nasi. Kebiasaan mengandalkan beras sebagai makanan pokok utama, harus dikikis secara perlahan.

“Ketergantungan beras (tinggi), di masa perubahan iklim ini, sawah-sawah irigasi, sawah tadah hujan tak bisa maksimal. Tak bisa berproduksi satu tahun tiga kali,” ujar Widya. (INT)