YOGYAKARTA, BERITAMERDEKAONLINE.COM – Hari ini adalah peringatan hari AIDS Sedunia, atau jatuh setiap tanggal 1 Desember. Pada tahun 2023, Hari AIDS Sedunia mengedepankan pada potensi komunitas sebagai penggerak utama dalam memberantas AIDS. Peringatan ini diterapkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap pandemi AIDS yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Karena bersifat retrovirus, HIV bisa berkembang biak dan menggandakan diri dalam sel tubuh manusia yang mengidapnya. Virus ini sudah dikenali sejak tahun 1950-an dan hingga saat ini belum ada obat yang mampu menghentikan infeksi virus ini. Pengobatan yang diberikan pada pasien hanya bisa diusahakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan meredakan gejala-gejala HIV. Tak jarang virus ini dihubungkan dengan penyakit menular seksual karena penyebarannya yang serupa. HIV dan penyakit menular seksual sama-sama bisa ditularkan lewat hubungan seks tanpa alat kontrasepsi dan/ atau dengan pasangan yang bergonta-ganti. Ini berarti baik pasangan gay maupun heteroseksual (beda jenis) sama-sama memiliki risiko terserang HIV.

Istilah LGBT mungkin sudah tidak asing lagi didengar. Belakangan ini, isu mengenai LGBT menjadi sorotan publik. Namun, masih banyak orang yang belum sepenuhnya memahami arti LGBT sebenarnya. LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Terkait ini, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Sarmin, menyampaikan untuk penanganan termasuk tugas pokok dan fungsi dari beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Menurutnya, DP3AP2KB bertugas menangani potensi penularan serta penanganannya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk  dan Keluarga Berencana
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Sarmin

“Untuk masalah LGBT ini jelas masuk tupoksi beberapa OPD, saling berkaitan, seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Kami hanya mengantisipasi, untuk potensi tertularnya HIV,” kata Sarmin, Jumat (1/12/2023).

Sarmin menerangkan, perilaku penyimpangan yang ditangani, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Soal LGBT, dilihat dari dampak atau munculnya penyakit menular seksual.

BACA JUGA : Hadapi Pemilu Dan Gagal Terpilih Jadi Anggota Dewan, Ini Kata Dinkes Kota Yogyakarta – Berita Merdeka Online

“Perilaku penyimpangan yang dimaksud adalah, salah satu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Terkait LGBT, salah satu dampaknya munculnya penyakit menular yakni HIV AIDS. Dan korbannya sudah ada yang mengakses untuk Pelayanan KB disalah satu fasilitas kesehatan di kota Yogyakarta. Kita tetap layani,” jelas Sarmin.

Jika memang benar adanya penyimpangan terkait LGBT, maka diharapkan adanya keterbukaan dari pasien itu sendiri. Sehingga sifatnya, dari tenaga medis yang melayani dan alat yang dipergunakan juga steril, sehingga tidak menimbulkan potensi penularan ke yang lain.

“Kalau ada pasien untuk terbuka soal hal LGBT, maka kita akan berikan saran, untuk dianjurkan ditangani ahli pada bidang ini,” katanya.

“Soal pelayanan tenaga medis untuk ini pasti ada, sehingga ketika telah ditangani, maka tidak akan menginfeksi ke yang lainnya,” ujar Sarmin.

Sarmin menambahkan, pihaknya mengantisipasi dan menekan dampak yang terjadi akibat kekerasan seksual.

“Kami mengantisipasi terkait dengan penekanan dampak kekerasan seksual, agar penyakit penyertanya tidak berpotensi menular seperti HIV AIDS. Dari sisi pelayanan KB , yang kami lakukan dan tetap layani, hanya sifatnya perlakuannya, bagi yang sudah terpapar tersendiri untuk ditangani,” pungkasnya.

Dikutip dari berbagai sumber, ada beberapa alasan yang menyebabkan tingginya risiko HIV pada hubungan seks gay. Alasan-alasan tersebut sangat beragam dan rumit, mulai dari faktor-faktor biologis, gaya hidup, dan sosial.

Itulah mengapa pencegahan terhadap kasus HIV pada pasangan gay masih sulit untuk digalakkan.

Risiko penularan HIV lewat seks anal

Seks anal menjadi pilihan yang umum bagi pasangan gay, meskipun banyak juga pasangan beda jenis yang mempraktikkan seks anal.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari penetrasi vagina. Pasalnya, jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat berbeda. Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja.

Selain itu, anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penetrasi anal dilakukan pun lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV. Infeksi HIV juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Cairan rektal sangat kaya akan sel imun sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau penggandaan diri.

Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang melakukan penetrasi telah positif mengidap HIV, virus ini akan dengan cepat berpindah pada pasangannya lewat cairan rektal pada anus. Tak seperti vagina, anus tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh.

Seks bebas tanpa alat kontrasepsi

Biasanya, kaum penyuka sesama jenis, transgender, dan biseksual (LGBT) berada dalam sebuah lingkaran pergaulan dan komunitas yang lebih sempit dari heteroseksual.

Ini dikarenakan kaum LGBT belum diterima secara utuh oleh masyarakat, jadi jumlahnya pun lebih sedikit dari heteroseksual.

Para anggota berbagai komunitas LGBT, terutama pada daerah tertentu, memiliki jaringan dan hubungan yang sangat erat. Akibatnya, jika seorang gay berganti-ganti pasangan seksual, biasanya dia pun akan memilih pasangan yang berasal dari komunitas yang sama.

Inilah yang menyebabkan penularan HIV jadi lebih marak ditemukan pada kasus penyuka sesama jenis alias gay. Di samping itu, masih banyak pasangan gay yang melakukan hubungan seks tanpa alat pengaman, misalnya kondom.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, seks anal lebih berisiko menularkan HIV. Tentu hal ini akan jadi semakin berbahaya jika seks anal dilakukan tanpa kondom. Penularan HIV akibat perilaku seks bebas ini sebenarnya sangat bisa dicegah dengan mempraktikkan seks yang aman dan tidak berganti-ganti pasangan. (SP/INT)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.