Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)
Pertengahan tahun ini di Prancis dibuka dengan kerusuhan besar yang berawal dari penembakan seorang remaja 17 tahun Nahel M. Seorang remaja keturunan Afrika Utara tepatnya Aljazair dan Maroko karena dinilai melakukan pelanggaran lalu lintas.
Nahel ditembak dibagian lengan dan dada hingga menyebabkan ia tewas. Insiden tersebut menguak keresahan terpendam setelah banyaknya kasus kekerasan polisi dan rasisme sistemik oleh penegak hukum terhadap berbagai etnis di Prancis. (bisnis.com 1/7/2023)
Demokrasi Bukan Solusi
Insiden kali ini menjadi bukti untuk kesekian kalinya bahwa demokrasi tak dapat menjadi solusi dari tindakan rasisme. Kejadian serupa terus berulang tiada henti dan entah sampai kapan akan terus terjadi.
Rasisme terhadap orang kulit hitam dan muslim memang kerap terjadi di negara-negara sekuler. Padahal disisi lain mereka gencar menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan yang dijunjung tinggi. Tapi nyatanya pandang bulu dalam penerapannya.
Slogan-slogan menyangkut HAM dan kebebasan seringkali diteriakan pada Islam yang dinilai memiliki banyak aturan mengekang. Padahal seharusnya slogan tersebut mereka teriakan pada diri sendiri yang masih memiliki pandangan rasis dalam dirinya.
Ketika demokrasi tak mempunyai jawaban atas masalah ini, maka solusi lain harus segera dicari. Karena hal ini tak bisa dibiarkan terjadi terus menerus, semua orang berhak hidup tenang tanpa rasa takut direndahkan sesamanya.
Jauh sebelum slogan-slogan yang dibanggakan Barat tersebut disuarakan, Islam telah lebih dulu mengajari manusia untuk menghormati sesama. Dalam kacamata Islam, manusia terbaik ialah orang yang paling bertakwa. Bukan yang berkulit putih atau hitam, bukan orang Eropa atau keturunan Arab.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (TQS Al-Hujurat: 13)
Islam Menyatukan Perbedaan
Allah menciptakan berbagai suku, ras, dan golongan bukan untuk saling merendahkan atau fanatisme golongan. Semua manusia dianggap setara, hanya ketakwaan mereka lah yang membedakan. Maka Islam dapat menyatukan berbagai perbedaan ras, suku dan golongan.
Sejarah juga telah membuktikan adilnya perlakuan Islam baik pada muslim maupun nonmuslim. Dalam The Preaching of Islam, Arnold menyatakan bagaimana perlakuan Daulah Ustmaniyah pada nonmuslim.
“Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.”
Hal serupa diungkapkan oleh Will Durant, seorang sejarawan Barat dalam bukunya yang berjudul The Story of Civilization: “Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol.
Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga orang yang memeluk dan berpegangan teguh pada Islam pada saat ini (1926) sekitar 350 juta jiwa. Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati mereka walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik diantara mereka.”
Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Islam, mencontohkan sendiri dengan mengangkat Bilal bin Rabbah RA sebagai Muadzin, dan mengatakan bahwa terompah Sayyidina Bilal sudah terdengar di surga. Artinya suatu hal yang istimewa seperti surga bisa dicapai oleh siapapun.
Islam mempunyai konsep integral untuk mencegah dan menindak pelaku rasisme, selama hampir 14 abad Islam mampu menjaga kesejahteraan masyarakat dengan perbedaan agama, ras, suku dan golongan.
Wallahua’lam bishawab.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan