Bupati Solok, Jon Firman Pandu
Oleh: Nazwirman Koto

Arosuka, Berita Merdeka Online – Dalam peta pembangunan daerah, Kabupaten Solok di Sumatera Barat mulai menapaki jalur percepatan yang semakin nyata. Di bawah kepemimpinan Jon Firman Pandu, Kabupaten Solok menunjukkan komitmen kuat untuk tidak hanya menunggu, tetapi aktif menjemput bola ke tingkat pusat.

Tidak sekadar seremonial, langkah yang diambil Bupati Solok adalah kerja diplomasi konkret yang menyasar dua aspek vital pembangunan: infrastruktur fisik dan infrastruktur digital.

Kunjungan dan koordinasi langsung Bupati Solok bersama Anggota DPR RI Andre Rosiade ke Kementerian PUPR pada 1 September 2025 merupakan bentuk keseriusan dalam memperjuangkan pembangunan strategis di tingkat nasional. Fokus pada peningkatan jalan strategis, penguatan irigasi, dan pembangunan embung menunjukkan bahwa pembangunan Solok tidak semata-mata tentang akses, tetapi juga tentang ketahanan sumber daya dan produktivitas pertanian, sektor yang menjadi nadi kehidupan masyarakat setempat.

Lebih dari itu, upaya menghadirkan konektivitas digital melalui pembangunan tower BTS bersama Telkomsel memperlihatkan pemahaman mendalam akan tantangan zaman. Di era transformasi digital, akses jaringan bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Fakta bahwa lima dari enam tower yang diusulkan sebelumnya telah beroperasi — dan satu lagi dalam tahap akhir — adalah bukti bahwa advokasi ke pusat membuahkan hasil nyata. Pengusulan enam titik tambahan semakin mempertegas tekad untuk menutup seluruh wilayah blank spot di Solok.
Penting dicatat bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu pihak.

Bupati Solok, Jon Firman Pandu

Kolaborasi antara pemerintah daerah, legislator pusat, dan pelaku industri seperti Telkomsel memperlihatkan bagaimana sinergi lintas sektor mampu melahirkan solusi konkret untuk masalah yang bertahun-tahun membelenggu daerah-daerah pelosok.

Dalam hal ini, peran Andre Rosiade sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI sangat signifikan, bukan hanya sebagai penghubung, tetapi juga sebagai pengawal aspirasi rakyat di tingkat kebijakan.

Respons positif Telkomsel yang menargetkan Solok bebas blank spot pada 2025 patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa perusahaan telekomunikasi pun menyadari tanggung jawab sosial mereka untuk memastikan bahwa manfaat kemajuan digital dapat dirasakan secara merata. Apalagi, di daerah seperti Solok, kehadiran jaringan dapat menjadi pengungkit bagi pendidikan daring, pelayanan publik berbasis digital, hingga tumbuhnya UMKM berbasis e-commerce.

Namun demikian, tantangan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Keberlanjutan dan pemerataan dampak menjadi tugas berikutnya. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa infrastruktur yang sudah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Pendampingan literasi digital, pelatihan petani dalam penggunaan teknologi irigasi, dan pemeliharaan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah yang tak boleh diabaikan.

Bupati Jon Firman Pandu telah menunjukkan gaya kepemimpinan yang progresif, kolaboratif, dan solutif. Alih-alih menyalahkan keadaan, ia memilih untuk turun langsung, membangun komunikasi lintas lembaga, dan menghadirkan solusi bagi warganya. Ini adalah contoh kepemimpinan yang relevan di masa kini — pemimpin daerah yang tidak hanya membangun dari dalam, tapi juga berjuang dari luar.

Akhirnya, keberhasilan Solok akan menjadi cermin bagi daerah-daerah lain. Ketika kepala daerah memahami perannya sebagai jembatan antara masyarakat dan kebijakan pusat, maka pembangunan tak lagi menjadi wacana, tetapi kenyataan. (Ikhsan)