Lamak di Awak, Katuju di Urang

Oleh: Perry Amir, Datuak Tumbijo, M.Si. (Tokoh Masyarakat RT 02 Gumala – Padang Panjang).

Pada tulisan pendek kali ini, kita akan membahas salah satu ungkapan atau petuah Minang, “Lamak di Awak, Katuju di Urang”. Ungkapan itu sudah sangat jarang didengar akhir-akhir ini. Kalau ditanya kepada anak muda nan “Jolong Gadang” (ABG) atau generasi “Z” (Gen Z), banyak yang tidak tahu maksudnya. Padahal, dahulukala (saisuak), petuah itu sering disampaikan sebagai saran atau pendapat dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun tujuannya agar dalam berinteraksi dan berkomunikasi, baik antarsesama manusia sebagai teman, sahabat, yang tua dan yang muda, maupun pemimpin dengan rakyatnya, terjalin hubungan yang harmonis, tidak ada yang merasa dirugikan atau dicurangi. Sehingga kehidupan menjadi harmonis, aman, damai, tenteram, dan saling mendukung.

Lalu, apa yang dimaksud dengan “lamak” dalam petuah itu? Lamak adalah salah satu kosakata bahasa Minang yang sepadan dengan enak, nikmat. Lamak biasanya berkaitan dengan selera atau rasa enak di lidah. Suatu makanan yang pas takaran bumbunya, cocok ukurannya, dan sesuai dengan momen atau waktu memakannya tentulah “lamak rasonyo”.

Akan tetapi, lamak itu bukan hanya soal selera, tetapi jauh lebih luas, misalnya lamak didengar (nyaman di telinga), lamak dipakai, lamak dicaliak (dilihat), dan sebagainya.

Oleh karena itu, dalam hal ini, lamak lebih menyangkut kepada lisan dan perbuatan seseorang. Di mana yang bersangkutan hidup dalam kesehariannya tidak bisa sendiri. Seseorang pasti membutuhkan kehadiran dan pertolongan orang lain.

Pertolongan itu tentunya dalam hal penerimaan atau eksistensi diri dalam pergaulan, berpendapat, perlu dukungan dan persetujuan atas ucapan atau tindakan yang dilakukan. Sebab, ucapan dan perbuatan itu bisa berdampak (negatif) terhadap masyarakat luas. Sehingga tidak terjadi sesuatu yang “nan ka lamak di awak surang” (hanya enak sendiri).

Kalau “ba a nan ka lamak sajo” bakal berpotensi terjadinya masalah, kendala, hambatan dalam mewujudkan niat ataupun suatu rencana atau program. Artinya, tidak akan mendapat dukungan atau pertolongan dalam mewujudkan sesuatu niat ataupun rencana itu.

Jadi, sangat diperlukan pertimbangan terhadap segala sesuatu yang akan disampaikan, diucapkan, dan dilaksanakan. Jika telah ditimbang, dimintai pendapat yang tentunya pendapat yang positif, tentulah akan lancar dan aman saja segalanya.

Teks Foto: Perry Amir, Datuak Tumbijo, M.Si.

Sering kali terjadi masalah akhir-akhir ini, baik di lingkup yang kecil maupun di daerah, bahkan negara kita, menyangkut implementasi suatu kebijakan. Tanpa masukan, saran atau pendapat terhadap pelaksanaan rencana suatu kebijakan atau program yang mungkin juga malah kurang persiapan, maka terjadilah konflik dan permasalahan yang rumit.

Rumitnya permasalahan itu akan lebih parah lagi jika berkaitan dengan gengsi dan egoisme pribadi. Padahal, dalam petuah Minang lainnya, “Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang”. Nah, apa pula maksudnya itu?. Secara logika, tidak mungkinlah kalau duduk sendiri sempit, duduk ramai-ramai lapang.

Terbalik, bukan? Tapi, itulah orang Minang zaman dahulu yang ungkapannya penuh kiasan, sindiran, dan perumpamaan. Sehingga tidak langsung ke sasaran tembak. Ungkapan sindiran dan kiasan itu dalam hal “manenggang” perasaan yang berucap atau melakukan sesuatu.

Dengan tenggang rasa, musyawarah, saling mengingatkan, pemberian masukan sebelum terlanjur yang akhirnya sulit menyelesaikan masalah, diperlukanlah saran dan pendapat.

Sekarang soal “katuju”, apa pula itu? Kata katuju (Minang) dapat dipadankan menjadi suka, sependapat, bisa diterima, dan tentunya juga didukung. Orang kalau suka, sependapat, setuju, sesuai, tentu akan ikut menolong dan menguatkan. Sebaliknya, jika tidak sesuai, merugikan, bahkan berdampak negatif yang lebih luas terhadap lingkungan atau masyarakat, tentunya tidak di”katujui”. Akibat tidak katuju itu, terjadilah masalah, rintangan, hambatan, bahkan tindak sabotase (penggagalan).

Sebenarnya, mengenai “katuju” itu bisa juga dilihat dari aspek untung rugi (benefit and loss). Tentunya dalam kaitannya dengan masyarakat luas, bukan untung atau rugi pribadi. Kalau memang sama-sama untung, jelas manfaatnya untuk kemaslahatan orang banyak, kenapa tidak didukung, disokong, atau dibela?

Jadi, sangat diperlukan kearifan bagi setiap individu ataupun pemimpin dalam berucap dan bertindak. Sehingga implementasi kebijakan, program, rencana, atau apa pun yang akan dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik, lancar, aman, tidak terjadi konflik dan masalah di kemudian hari yang penyelesaiannya sulit.

Sulit atau rumitnya mungkin bagaikan pepatah “bak makan buah si malakama” atau sulit menyelesaikan, sesulit mengurai benang kusut masai.

Semoga ada manfaat.

(Charles Nasution: Koordinator Liputan Beritamerdekaonline.com)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.