Ditulis oleh : Putri Artsita S – Mahasiswa MIKOM FISIP Universitas Bengkulu 2024

Beritamerdekaonline.com – Belakangan, perkembangan teknologi yang meluas tidak hanya memberikan efek pada orang-orang dewasa dengan lingkup pekerjaan dan ruang sosial belaka. Kemudahan akses internet yang disuguhkan oleh teknologi saat ini pelan-pelan mulai memberikan efek pesat pada tumbuh kembang karakterisasi anak, di mana penggunaan ponsel dan internet menjadi salah satu konsumsi terbesar anak-anak di era digitalisasi saat ini.

Putri Artsita S – Mahasiswa MIKOM FISIP Universitas Bengkulu 2024.

Jika bertumbuh adalah perubahan fisik yang dengan mudah dapat diukur, maka berkembang adalah bentuk bertambahnya kemampuan struktur fungsi tubuh menjadi lebih kompleks. Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak factor internal dan eksternal. Faktor internal dapat kita temui dari dalam diri anak, mulai dari jenis kelamin, usia, perbedaan ras, genetik, hingga pada perkembangan kromosom itu sendiri. Sedangkan perkembangan eksternal lebih mengacu pada keadaan lingkungan sosial, ekonomi, nutrisi, dan juga stimulasi psikologis.

Pada dasarnya, setiap anak memiliki Tingkat tumbuh kembang yang baik. Di mana dalam hal ini, dunia bermain adalah tempat satu-satunya yang mampu dijejaki oleh anak-anak. Semua anak pada usia dini tanpa memandang usia mereka belajar dengan sangat baik melalui bermain. (Phelps, 2005: P:1). Dalam bermain anak-anak akan membuat pilihan, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan bersosialisasi, Menurut pandangan Kustiowati (2002), anak mempunyai kelainan dalam berkomunikasi atau Bahasa sebelum mengenal sekolah. Sekitar 40-60% anak akan mengalami kesulitan ketika ia memasuki masa sekolah, baik dalam segi Bahasa tulisan atau bahkan dalam memahami pembelajaran akademik. Sehingga pengaruh lingkungan akan menabuh hasil yang cukup besar dalam proses tumbuh kembang anak di usia emas, yang menurut Suyadi dalam bukunya yang berjudul Psikologi Belajar Paud (2010: 06) adalah masa di mana otak anak mengalami perkembangan paling cepat sepanjang seharah kehidupan, berlangsung dalam interval waktu 0-6 tahun.

Pada akhir tahun 2019, wabah covid menjadi awal dari segala bentuk komunikasi yang dilakukan secara daring (online) di mana kebutuhan internet dan handphone menjadi bahan pokok yang tidak dapat ditinggalkan, baik untuk urusan pekerjaan maupun Pendidikan. Melalui perubahan system ini, anak-anak kemudian memiliki interval waktu lebih banyak dalam berselancar di dunia media, daripada bermain dengan teman sebaya, sehingga segala informasi yang mereka akses tidak lagi memiliki batas.

Perkembangan teknologi jelas membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat, segala menjadi lebih mudah, cepat dan praktiks. Namun dalam beberapa aspek, ada kemunduran yang disebabkannya oleh globalisasi digital saat ini. Dalam konteks tumbuh kembang anak, penggunaan internet yang berlebihan mulai menumpulkan tenggangrasa pada anak, membuat mereka ketagihan dan menjadi tidak pandai dalam mengolah emosi, sebab segala komunikasi yang mereka jalankan adalah komunikasi melalui media, bukan lagi tatap muka yang mengharuskan mereka menaruh atensi pada lawan bicara. Melemahnya kemampuan merasakan sensasi di dunia nyata inilah yang kemudian menjalar jadi masalah anak dalam membangun empati.

Empati merupakan suatu emosi pada anak yang mampu melihat dan menempatkan diri sebagai orang lain dalam menilai suatu pemaknaan. Menurut Gardner dalam buku yang berjudul Memahami Permasalahan Anak Usia Dini (2017: 31), menyebutkan bahwa keterampulan inti yang perlu dimiliki anak agar memiliki kualitas hubungan sosial yang bagus, yaitu memahami diri, memahami orang lain, dan melakukan peran sosial. Maka melalui empati, anak akan dapat lebih memahami orang lain dan menumbuhkan sikap toleransi pada perbedaan yang kemudian dapat menumbuhkan rasa kasih sayang dan sikap mau menolong sesama.

Senyatanya, membangun empati pada anak usia emas bukanlah sesuatu yang mudah, sebab dibutuhkan upaya yang dibangunnya dari interaksi sosial anak kepada lingkungan. Penggunaan ponsel yang menjadi candu anak jelas menjadi penghalang besar, sehingga dalam penerapannya, orangtua harus melakukan usaha yang sedikit lebih besar. Kita, sebagai orang dewasa yang sudah lebih paham, harus dapat mengubah makna yang tertanam dalam diri anak soal semua nilai dan informasi yang didapatkan anak dari internet. Maka, mengutip teori Max Weber tentang interaksi simbolik, orangtua diharapkan dapat memberikan pengertian yang sanggup mengubah cara pandang anak soal penggunaan internet agar lebih baik melalui percakapan dan pendekatan sosial. Karena sejatinya, Max Weber mengatakan bahwa makna sesuatu dapat berubah berdasarkan interaksi yang dibangun oleh satu individu dengan individu lainnya.

Sama halnya seperti menumbuhkan Empati pada anak, dalam konteks bersosial media, orangtua harus paham dan dapat mengarahkan penggunaan ponsel dan internet pada anak menuju hal-hal yang lebih positif. Memanfaatkan salah satu konsumsi media yang seringkali diakses oleh anak-anak yaitu segala bentuk informasi komunikasi yang bersifat audio-visual, seperti video, orangtua dapat memberikan anak-anak tontonan yang sekiranya dapat memberikan stimulus pada motoric anak dalam membangun empati, seperti film-film kartun yang begitu diminati oleh anak-anak diantaranya adalah:

1. Zootopia
2. My Neighboor is Totoro
3. Inside Out

Dan masih banyak lagi. Dengan ini, peran media sosial dan internet tidak hanya sebagai penyedia informasi belaka, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi anak dalam meningkatkan toleransi pada sesama.

Dengan begitu, pemanfaatan media dalam membangun empati pada anak menjadi sangat strategis. Selain dapat memanfaatkan internet yang menjadi candu anak-anak dalam mengarahkannya kepada hal-hal positif, film yang mereka tonton juga dapat memberikan stimulus pada anak untuk menumbuhkan empati dan tenggangrasa yang semulanya tumpul. Dengan ini, diharapkan perkembangan empati pada anak tidak hanya dapat dibangun, tetapi juga terawatt hingga dapat mereka terapkan di kehidupan sehari-hari.