Oleh : Tawati (Aktivis Muslimah Majalengka)
Penistaan terhadap Al-quran tak henti-hentinya terus terjadi. Berbagai kecaman datang dari berbagai pihak, terutama dari dunia Islam. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI), Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan, pemerintah Swedia harus cepat merespons kecaman dunia soal aksi pembakaran Al-quran yang telah dilakukan oleh warga negaranya.
“Jika pemerintah Swedia tidak merespons kecaman dari berbagai negara, termasuk Indonesia, kepercayaan internasional akan merosot,” kata Sudarnoto sebagaimana dilansir dari situs resmi mui.or.id, pada Jumat, 30 Juni 2023 lalu.
Keprihatinan, kutukan, dan kecaman yang disampaikan hanya berhenti pada kata-kata. Faktanya, tidak ada satu pun dari pemimpin negeri muslim ini yang bisa mengambil tindakan nyata agar pembakaran Al-quran tidak terjadi berulang.
Para pemimpin muslim hanya bisa mengutuk dan mengecam. Mereka diam dan bersembunyi di balik narasi menjaga perdamaian internasional dan alasan menjaga masing-masing kedaulatan dan urusan internal. Sungguh muruah para pemimpin muslim telah runtuh.
Penerapan kapitalisme global telah berhasil melemahkan semua sisi kekuatan umat Islam, mulai dari pemikiran sampai aspek politiknya sehingga mereka menjadi objek jajahan. Padahal, jumlah potensi kaum muslim lebih dari 1,5 miliar jika dikumpulkan bisa menjadi satu kekuatan besar.
Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW. “Hampir orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, sebagaimana halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas hidangan.” Seseorang berkata,“Apakah karena sedikitnya jumlah kami saat itu?
Beliau bersabda, “Bahkan, kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih di atas air. Lalu Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Inilah gambaran umat Islam hari ini. Kaum muslim telah kehilangan muruah, karena tidak lagi berpegang teguh pada Islam. Umat Islam harus bangun dari mimpi. Mereka punya kesempatan besar mengubah keadaan yang buruk ini menuju perubahan hakiki. Yaitu terwujudnya kepemimpinan Islam sebagaimana yang telah disyariatkan.
Sejarah mencatat, ketika kepemimpinan Islam tegak, muruah Islam dan umatnya terjaga. Ketika musuh berani bertindak gegabah, pemimpin Islam siap mengangkat senjata.
Kita bisa lihat, beberapa kisah penaklukan bangsa-bangsa diawali oleh kecerobohan para penguasanya dengan melakukan penghinaan atas Islam dan umatnya. Namun, dengan penuh wibawa, penguasa muslim membela rakyatnya sampai musuh tunduk dan menyerah di bawah kakinya.
Kepemimpinan Islam yang ideal seperti ini tentu lahir ketika umat memiliki kesadaran yang benar bahwa kemuliaan hidup, bahkan mati mereka hanya ada pada tegaknya Islam. Ini karena Islam adalah sistem aturan hidup yang tegak di atas asas yang lurus, sekaligus memancarkan berbagai aturan yang akan menyolusi seluruh persoalan kehidupan.
Wallahu a’lam bishshawab.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan