Muara Teweh, beritamerdekaonline.com –– Kenaikan harga LPG 3 kilogram bersubsidi kembali membuat masyarakat Barito Utara mengeluh. Fenomena yang kerap berulang ini masih belum mampu ditekan, meski pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) antara Rp22.000 hingga Rp25.000.
Namun fakta di lapangan menunjukkan harga justru melambung hingga lebih dari Rp50.000 per tabung di sejumlah pengecer. Kondisi itu menimbulkan tanda tanya besar terkait efektivitas pengawasan dan distribusi di tingkat agen maupun pangkalan.
Politikus Partai Demokrat Barito Utara, Ardianto, menilai tingginya harga LPG bukan hanya karena meningkatnya permintaan, tetapi juga diduga akibat kesalahan prosedur penyaluran dan lemahnya pengawasan.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Dinas terkait harus segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan dan pengawasan langsung,” tegas Ardianto dalam pernyataannya, Jumat (28/11/2025).
Untuk membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah, Ardianto mendorong Pemerintah Kabupaten Barito Utara segera menggelar pasar penyeimbang.
“Kebijakan pasar penyeimbang sangat dibutuhkan untuk menekan gejolak harga LPG bersubsidi, agar keluhan warga bisa terjawab,” ujarnya.
Selain itu, ia meminta pemerintah membentuk tim khusus yang berwenang memeriksa seluruh agen dan pangkalan LPG. Mereka yang terbukti melanggar aturan distribusi harus diberikan tindakan tegas.
Ardianto menegaskan bahwa pengendalian harga kebutuhan pokok merupakan bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
“Saya mendukung penuh langkah pemerintah untuk menertibkan distribusi LPG dan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa kecurangan,” tutupnya.
Kenaikan harga LPG 3 kg dirasakan semakin berat bagi warga Barito Utara, sehingga tindakan cepat dan terukur dari pemerintah sangat diharapkan demi menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.




Tinggalkan Balasan