Rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun akhirnya terobati, itulah yang terlihat jelas di Gedung Tri Arga Bukittinggi pada Minggu (18/10/2026)
BUKITTINGGI, Berita Merdeka Online.Com — Rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun akhirnya terobati, itulah yang terlihat jelas di Gedung Tri Arga Bukittinggi pada Minggu (18/10/2026), dimana gedung pertemuan milik Pemprov Sumbar itu dipenuhi oleh tawa lepas, haru, dan pelukan hangat dari para peserta yang sudah lama tidak berjumpa dalam acara Taragak Basuo, silaturahmi mantan ASN Kabupaten Agam yang sukses digelar dengan penuh kekeluargaan.
Acara ini dihadiri lebih kurang 250 orang purna bhakti yang datang dari berbagai penjuru, ada yang datang dari Lubuk Basung, Maninjau, Bukittinggi, Padang, bahkan ada yang sengaja pulang dari rantau hanya untuk menghadiri acara ini, dan yang hadir bukan orang biasa karena mereka adalah orang-orang yang pernah membangun dan membesarkan Kabupaten Agam di masanya dengan pengabdian yang luar biasa.
Tampak hadir di barisan depan mantan Bupati, mantan Sekda, mantan Asisten, mantan Kepala Dinas, dan puluhan mantan eselon II dan III dari berbagai angkatan, kebanyakan adalah ibu-ibu yang masih terlihat sehat, cantik, dan tetap bersemangat untuk bersilaturahmi, saling menyapa dan mengenang masa-masa saat masih aktif berdinas dulu.
Acara yang penuh makna ini digagas oleh panitia yang diketuai oleh Eldi Efra, seorang mantan eselon III yang dikenal sangat aktif dan peduli dalam kegiatan sosial purna bhakti, dan dalam sambutannya Eldi Efra menjelaskan dengan rinci alasan pemilihan tema yang sangat kental dengan nuansa Minangkabau tersebut.
Tema yang diusung kali ini adalah “Taragak Basuo, Bapisah Karano Jarak, Basuo Karano Taragak, Paarek Jo Raso Badunsanak”, sebuah tema yang menurutnya sangat mewakili perasaan seluruh peserta yang hadir.
“Kito dulu bapisah karano jarak, karano tugas, dan karano sudah purna. Kini kito basuo baliak bukan karano jabatan, tapi karano taragak. Harapan kito, rasa badunsanak kito yang alah lamo taputuih ko bisa paarek baliak,” ujar Eldi Efra yang laporan panitianya mendapat aplaus meriah dan panjang dari seluruh peserta yang hadir.
Selanjutnya, tokoh yang paling dihormati dan paling ditunggu-tunggu oleh seluruh peserta, yaitu H. Aristo Munandar, Bupati Agam periode 2005-2015, naik ke atas panggung dengan langkah mantap, ia hadir bersama dua mantan wakilnya yang setia mendampingi, yaitu H. Ardinal Hasan dan Syafruddin Arifin, dan kehadiran tiga pimpinan Agam di era keemasan itu secara bersamaan di satu panggung membuat suasana semakin haru dan penuh nostalgia.
“Sajak tadi datang, ambo liek sadonyo bagadang hati, tampak senang, galak-galak, tak ada yang sedih. Lapeh taragak kito bang,” kata Aristo sambil mengulang ucapan tulus dari wakilnya, Syafruddin Arifin, yang duduk di sampingnya dengan wajah yang juga penuh bahagia.
“Buya ko luar biasa, wajar kito samo-samo berterimakasih ka Buya. Mudah-mudahan Buya masuak sarugo jugo lah handaknyo,” ucap Aristo yang langsung disambut dengan tawa lepas, tepuk tangan meriah, dan kata amin yang menggema di seisi gedung Tri Arga.
Bupati Agam saat ini, Benni Warlis, sejatinya sangat ingin hadir langsung untuk bertatap muka dengan para senior dan pendahulunya, namun karena ada agenda pemerintahan yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan pada hari yang sama, ia terpaksa berhalangan hadir, dan sebagai wakil resmi, Bupati dengan hormat mengutus Asisten III Setda Agam, Taslim, untuk hadir di tengah-tengah para purna bhakti tersebut.
Dalam sambutannya di atas panggung, Taslim menyampaikan permohonan maaf yang tulus dari Bupati Benni Warlis kepada seluruh purna bhakti, ia juga menyampaikan harapan besar dari Bupati agar silaturahmi purna bhakti yang sudah terjalin dengan baik ini terus terjaga dengan erat dan bisa menjadi kekuatan moral serta sumber nasihat yang berharga untuk pembangunan Kabupaten Agam ke depan yang lebih maju.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, juga sebenarnya telah dijadwalkan untuk hadir memberikan sambutan dan motivasi, namun karena ada tugas lain di tingkat provinsi yang waktunya bersamaan dan tidak bisa diwakilkan, Buya Mahyeldi juga berhalangan hadir, dan Gubernur kemudian mewakilkan kepada salah satu pejabat terbaiknya, yaitu Kadis Perdagangan Pemprov Sumbar, Hendrizal, untuk menyampaikan sambutan atas nama Gubernur.
Sosok Hendrizal sendiri menjadi inspirasi dan contoh nyata bagi banyak peserta yang hadir, karena ia adalah bukti hidup bahwa karir dari bawah itu benar-benar ada dan bisa diraih dengan kerja keras, hingga kini dipercaya oleh Gubernur menjadi eselon II di Provinsi Sumatera Barat, sebuah perjalanan karir yang luar biasa.
“Gubernur Buya Mahyeldi titip salam untuk kita bersama. Beliau ingin sekali hadir, tapi tugas lain tidak bisa ditinggal. Beliau pesan, mudah-mudahan kita semua sehat selalu dan terus menjalin silaturahmi,” kata Hendrizal dengan penuh hormat, dan ia menambahkan bahwa jabatan Pj yang dipercayakan Gubernur kepadanya tidak lepas dari kedekatan dan pengalaman panjangnya selama bertugas dan mengabdi di Kabupaten Agam.
Setelah sambutan-sambutan resmi yang penuh haru dan motivasi tersebut selesai, acara kemudian diisi dengan hiburan yang membuat suasana semakin cair, hangat, dan penuh kegembiraan, dimana penampilan vokal grup legendaris Efendi Cs berhasil menghibur peserta dengan lagu-lagu nostalgia yang membuat semua ikut bernyanyi bersama dengan riang gembira.
Namun penampilan yang paling pecah, paling ditunggu, dan paling menghibur adalah saat Martiaswanto, mantan Sekda Agam yang dikenal berwibawa, naik ke panggung untuk menyumbangkan suara emasnya, dengan penuh penghayatan ia membawakan lagu hits dari penyanyi legendaris Broery Marantika, dan seketika seisi gedung ikut bernyanyi bersama, bertepuk tangan dengan kompak, dan bahkan ada yang berjoget kecil di kursi masing-masing karena terbawa suasana lagu yang begitu merdu.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat karena keasyikan bercengkrama dan melepas rindu, kebersamaan yang penuh tawa dan cerita nostalgia itu, dan kemudian diakhiri dengan acara yang paling ditunggu yaitu makan siang bersama dengan menu khas Minang, dilanjutkan dengan sesi foto-foto bersama, saling tukar nomor hape untuk mempermudah komunikasi, dan ditutup dengan shalat Zuhur berjamaah di lokasi acara dengan penuh kekhusyukan.
Semua peserta yang hadir pulang dengan hati yang sangat gembira dan wajah yang berseri-seri, mereka membawa harapan besar dan pesan agar acara Taragak Basuo seperti ini jangan hanya sekali saja, tetapi bisa menjadi agenda rutin tahunan yang terus dilaksanakan untuk menjaga tali silaturahmi agar tidak pernah putus sampai akhir hayat.(KN)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan