Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Yosia Yodan bersiap menjalani ujian sabuk hitam Karate Combat Association setelah menekuni latihan bela diri tersebut selama sekitar empat tahun. Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Bengkulu dan pengusaha, Yosia tetap konsisten berlatih sebagai persiapan menghadapi ujian kenaikan tingkat tersebut.

Yosia mengatakan dirinya meningkatkan intensitas dan keseriusan latihan menjelang ujian. Terlebih, proses penilaian akan dilakukan oleh praktisi yang memiliki pengalaman dan prestasi di bidang Karate Combat.
“Saya latihan dengan serius karena tim penguji merupakan orang-orang yang memang memiliki pengalaman dan prestasi. Ada Sensei Deni Arif dan Sensei Deni Daffa yang merupakan juara nasional Karate Combat. Ini menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi saya untuk memberikan yang terbaik,” ujar Yosia.
Ujian sabuk hitam tersebut akan melibatkan empat penguji, yakni Master Dedy Armansyah selaku Ketua Dewan Guru, serta Sensei Deni Arif, Sensei Deni Daffa, dan Sensei Safran Aziz sebagai anggota tim penguji.
Master Dedy Armansyah yang telah mendampingi Yosia selama kurang lebih empat tahun menilai Yosia telah memenuhi persyaratan untuk mengikuti ujian sabuk hitam.
“Saya sudah melatih Yosia Yodan kurang lebih empat tahun. Saya melihat proses dan perkembangan beliau selama latihan. Menurut saya, beliau sudah layak untuk mengambil ujian sabuk hitam ini,” kata Dedy.
Karate Combat Association merupakan organisasi karate independen yang mengembangkan bela diri dengan pendekatan pertarungan nyata atau real fight. Sistem yang digunakan dikenal sebagai Bubishi Ryu.
Dalam latihan, karateka tidak hanya mempelajari teknik yang digunakan dalam pertandingan, tetapi juga kemampuan menghadapi situasi pertarungan secara lebih menyeluruh. Materi latihan mencakup atemi waza atau teknik serangan tangan, seperti zuki dan empi, geri waza atau teknik tendangan, termasuk hiza geri, serta nage waza atau teknik bantingan.
Latihan juga mencakup ne waza yang berkaitan dengan pergumulan dan kansetsu waza untuk teknik kuncian. Sementara itu, latihan uke atau tangkisan dilakukan bersama pasangan dengan adanya serangan yang datang sehingga kemampuan bertahan dilatih melalui situasi yang lebih realistis.
Karate Combat Association berdiri secara independen dan tidak berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) serta tidak terlibat dalam kegiatan FORKI. Sistem pembinaan yang dikembangkan juga membuka peluang bagi atlet untuk mengikuti pertandingan profesional, termasuk PRIME KUMITE (Karate Combat Indonesia) dan kompetisi olahraga tarung profesional seperti seni bela diri campuran (MMA).
Bagi Yosia, sabuk hitam bukan sekadar simbol kenaikan tingkat. Di baliknya terdapat proses latihan panjang, kedisiplinan, pembentukan karakter, ketahanan mental, serta tanggung jawab untuk terus mengembangkan kemampuan.
Kini, setelah sekitar empat tahun menjalani latihan, Yosia berada di tahap akhir menuju ujian sabuk hitam. Ia memilih menghadapi ujian tersebut dengan persiapan matang dan berkomitmen memberikan kemampuan terbaik.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan