SEMARANG, Berita Merdeka Online – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, merancang Rumah Inspirasi, sebuah pusat belajar dan kreativitas bagi anak-anak inklusi, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau membutuhkan perawatan khusus.
Program yang termasuk 100 hari pertama kepemimpinan Agustin-Iswar, ia akan memanfaatkan lahan yang tersedia di kecamatan untuk menciptakan ruang-ruang edukatif dan aktivitas yang mendukung minat serta bakat anak-anak inklusi.
“Rumah Inspirasi tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menyediakan layanan kesehatan fisik dan mental bagi anak-anak yang membutuhkannya,” ujar Agustina saat peletakan batu pertama pembangunan rumah inspirasi di Kecamatan Mijen pada Jumat (14/3).
Karena di Kecamatan Mijen inklusinya paling banyak maka Mijen menjadi yang pertama dibangun rumah inklusi.
Agustina menyampaikan, selain pendidikan formal, anak-anak inklusi akan mendapatkan pembinaan sesuai minat mereka agar siap menghadapi dunia nyata.
“Jika minat mereka ada di bidang teknologi, pemerintah akan menyediakan perangkat atau tenaga pendidik yang mampu mengembangkan potensi mereka,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan selain mendukung pendidikan inklusif, pemerintah juga menekankan pemanfaatan fasilitas publik secara gratis bagi masyarakat, terutama komunitas inklusi.
Saat ini, beberapa fasilitas seperti aula kecamatan masih memerlukan biaya untuk penggunaannya, yang sering kali menjadi kendala bagi komunitas tertentu.
Untuk itu, Agustina telah melakukan pembebasan retribusi bagi masyarakat yang ingin menggunakan fasilitas publik di kantor kecamatan dan kelurahan yang bertujuan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
“Kami meminta agar fasilitas publik ini dapat digunakan secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan, sehingga mereka tidak perlu terbebani biaya sewa untuk kegiatan sosial dan pendidikan,” katanya.

Di sektor perlindungan sosial, pemerintah berkomitmen untuk memastikan pekerja mandiri mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan.
Saat ini, banyak pekerja informal seperti pengusaha kecil, pedagang, atau buruh lepas yang tidak memiliki perlindungan sosial karena tidak terdaftar sebagai pekerja formal.
“Pemerintah akan mengalokasikan sebagian anggaran dari APBD agar mereka mendapatkan perlindungan kerja yang layak,” imbuhnya.
Selain pendidikan dan perlindungan sosial, pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga menjadi prioritas dalam inisiatif ini.
Agustina mengatakan PKK Kota Semarang akan berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
“Sampah akan dipilah berdasarkan jenisnya, sehingga sampah organik dapat diolah dan sampah anorganik bisa didaur ulang, mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA hingga 30%,” tandasnya.
Upaya ini juga bertujuan mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat kota serta mendukung lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Pemkot Semarang berencana membuat skema khusus agar pengelolaan sampah ini lebih efektif, termasuk dengan melibatkan berbagai pihak seperti komunitas dan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Melalui gotong royong antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta, program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup warga Kota Semarang.
“Dengan adanya Rumah Inspirasi, fasilitas publik gratis, perlindungan sosial bagi pekerja mandiri, serta pengelolaan sampah berbasis masyarakat, Semarang semakin menjadi kota yang inklusif, ramah lingkungan, dan lebih baik untuk semua,” pungkas Agustina.(day)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan