Beritamerdekaonline.com, Jakarta – Ketika manusia melebur ke alam semesta akan menjadi sebuah satu kesatuan kebangkitan bangsa.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI), Sri Eko Sriyanto Galgendu pada saat mengawal 32 bhikkhu tudong di Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah.
Menurut Sri Eko, Candi Borobudur adalah mahkota dari Prabu Smaratungga yang menandai masa kejayaan suku bangsa nusantara di abad ke-7. “Ini adalah nilai-nilai spiritual yang melekat di dalamnya sangat sakral,” kata Sri Eko di Magelang saat perayaan hari Waisak (4/6/23).
Kesakralan ini, kata Sri Eko akan menjadi sangat ideal bila Candi Borobudur dapat dikukuhkan sebagai tempat ziarah spiritual terbesar di dunia dan pusat ibadah agama Buddha.
Apalagi, sambung Sri Eko Candi Borobudur sudah menjadi pusat pendidikan sejak lama yang bernama Smaratungga. “Ini menandai sebuah kedahsyatan budaya bangsa nusantara dan juga merupakan karya seni yang luar biasa,” jelasnya.
Selain itu, sambung Sri Eko bangsa Nusantara seperti Candi Borobudur menandai betapa besarnya budaya suku bangsa Indonesia di jamannya.
“Ini menunjukkan kuatnya budaya Hindu dan Budha tergambar dengan kemegahan Candi Brobudur sebagai karya anak bangsa,” ungkapnya.
Sri Eko juga menyinggung terkait perjalanan 32 bhikkhu yang berjalan ribuan kilometer dari Bangkok hingga Candi Borobudur. “Kita diajak untuk ikut prihatin terhadap alam semesta agar umat bangsa menyatu tanpa melihat perbedaan antara ciptaanNya, Selamat Tri Waisak 2023/2567 BE (Buddhist Era). Sabbe Satta Bhavantu Sukithata. Semoga semua makhluk berbahagia,” pungkas Romo Eko panggilan akrabnya.(ams)



Tinggalkan Balasan