Bengkulu Utara, Beritamerdekaonline.com – Satu satunya akses jalan masyarakat menuju Desa Lebong Tandai Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu, kondisi saat ini sudah sangat memperihatinkan dan memang membutukan bantuan dan kolaborasi mungkin dari Provinsi atau Pusat. Jika dari Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkulu Utara (BU), sepertinya dengan jumlah personil lima orang dari BPBD BU yang diterjunkan bakal kewalahan belum lagi keterbatasan alat yang bisa dikatakan seadanya.
“Bagaimana tidak selain lokasi juga terbilang sangat ekstrim dengan suasana hutan yang masih asri belum lagi kemungkinan adanya ancaman hewan buas. Longsor tanah bercampur bebatuan yang menguyur tersebut, diketahui juga sudah menimbuni badan jalan rel yang biasanya dilalui Molek, “tertimbun sepanjang 50 meter” dengan ketinggian yang bervariasi, 1 meter, 2 meter bahkan 10 meter.” Dan alternatif ini merupakan akses warga untuk mengagkut sembako dan kebutuhan lainya, digunakan oleh warga/masyarakat Desa Lebong Tandai Bengkulu Utara, keseharianya.”
“Juga dititik ini pernah terjadi longsor sebelumnya di Oktober 2024 lalu, sempat di bereskan dibantu oleh TNI dan bergotong royong bersama Kepala Desa (Kades) dan warga Desa Lebong Tandai Kabupaten Bengkulu Utara (BU) “kenyatanya peristiwa lama ini kembali terjadi, kembali longsor”. Memang dititik dua ini sangat rawan selain itu juga medanya sangat ekstrim dimana rel yang tertimbun tersebut berada dibawah tebing setinggi 20 meter, jika hujan deras dipastikan longsor susulan kembali menimbun rel Molek.”

Terkait tebing setinggih 20 meter diatas rel sebelumnya kita pernah melakukan pembicaraan untuk solusi agar tidak terjadi kembali longsor, dimana Bhabin setempat mengatakan agar tebing tersebut diledakkan pakai peledak supaya tidak terjadi longsor susulan, tapi itu hanya sebatas pembicara dan saran untuk mencari solusi dibalik atas semua kejadian ini, dan itu juga belum kita lakukan.” Ujar Pelaksana Tugas Kepala (Plt) BPBD Kabupaten Bengkulu Utara, Rahmad Rizwan, mengutip pembicaraan di Oktober 2024 lalu.
Longsor kali ini di Desa Lebong Tandai, kita BPBD BU sudah menerjunkan personil pada Rabu 17 September lalu, sebanyak lima orang yang berangkat menuju lokasi longsor beserta perlengkapan alat yang dibutuhkan diantaranya cangkul, skop, kelenteng dan selang hisap air. Katanya untuk saat ini personil kita juga dibantu masyarakat setempat masih bergotong royong mengangkut tanah dari longsor menutupi laju jalan rel Molek yang bercampur bebatuan, kita juga dilokasi sedikit terkendala atau kesusahan dikarnakan tanah yang menutupi/menimbun rel Molek sudah mengeras. Adapun fungsi selang tadi dibantu dengan mesin untuk menyedot air dari sungai agar tanah timbunan yang mengeras tersebut melunak dan dapat diangkat dengan alat.

“Kita dilokasi juga khwatir jika terjadi hujan deras kemungkinan akan terjadi longsor susulan dan kembali menimbun rel Motor Lori Ekspres (Molek) menggingat tebing diatas sangat tinggi dan bisa saja memakan korban jiwa. Kepada personil kita juga sudah menghimbau agar hati-hati dalam bekerja, saat hujan berhenti dulu mengangkat tanah timbunan, agar tidak memakan korban jiwa dilokasi. Selanjutnya untuk personil nanti dengan secara bergantian personil yang terjun pada Rabu akan pulang pada Minggu 21, kemudian diganti dengan personil baru.” Jelas Rahmad Rizawan Plt BPBD BU.
Informasi saat ini didalam, melalui Camat Napal Putih Bengkulu Utara Bambang Abdul Mutalin, pada Jum’at (19/10/2025) Rahmad Rizawan kembali menyampaikan personil yang sebelumnya sempat bekerja membersihkan tetimbunan longsor terpaksa berhenti untuk sementara, dikarnakan personil BPBD BU belum berani menggangkut timbunan longsor mengingat cuaca masih belum bagus (hujan-red) dimana material dari tebing 20 meter berupa batu bercampur tanah masih sering berjatuhan. Jadi saat ini personil tidak ngecamp tapi menginap di rumah warga Desa Lebong Tandai Bengkulu Utara, sesambil menunggu cuaca baik untuk kembali bergotong royong.

Kemudian seperti apa disampaikan warga Lebong Tandai BU, dirinya juga membenarkan selain jembatan rusak peninggalan belanda yang hampir ambrol, longsor bukan dititik dua ini saja longsor baru juga kembali terjadi di dekat lobang memasuki terowongan dititik pertama. Jadi warga/masyarakat di Desa harus berganti tiga kali Molek disetiap titik timbunan longsor yang menutupi rel, ketika dititik timbunan Molek berhenti dan lanjut berjalan kaki dan juga ada warga yang mengangkut untuk memindahkan barang seperti sembako bolak balik menaiki Molek selanjutnya, juga ongkos bertambah mahal menjadi tiga kali lipat. Setelah menaiki tiga Molek, lanjut menyambung kendaraan Roda Empat (R4) jalur Pt. Alno, dimana jika hujan jalan ini tidak bisa dilalui kendaran R4.
“Terakhir, adapun dampak dari longsor di Desa Lebong Tandai BU Provinsi Bengkulu, terjadi selama empat hari sudah lewat ini dan semenjak berita sebelumnya diterbitkan “belum ada bantuan dari pemerintah daerah setempat”, disampaikan masyarakat sebelumnya. Kali ini kembali masih disampaikan masyarakat Misnawati perwakilan masyarakat Desa Lebong Tandai BU Provinsi Bengkulu, mengatakan kondisi masyarakat desa saat ini mengalami krisis sembako ada sembakopun harganya juga melonjak drastis dari harga biasanya, kami berharap secepatnya dapat ditanggulangi, dan dirinya juga sempat mengatakan dimanakah jalan kami ini yang sebenarnya, apa kami bagian dari BU Provinsi Bengkulu Indonesia, sampai-sampai kami tidak diperhatikan akses jalan, dan seperti terkucilkan. Tutupnya berharap. (Yapp)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan