SEMARANG, Berita Merdeka Online — Aktivis angkatan 95, Susilo H. Prasetiyo, yang juga pernah menjabat Ketua PAC Pemuda Pancasila Semarang Barat serta pengurus DPC era Suhartoyo, kini menyuarakan pentingnya pembaruan di tubuh Forum Komunikasi Semarang Bersatu (FKSB).
Sebagai Ketua LSM RPK-RI, Susilo menilai organisasi kemasyarakatan (ormas) memiliki peran strategis sebagai wadah aspirasi masyarakat sekaligus penghubung antara rakyat dan pemerintah.
Peran Strategis Ormas dalam Pembangunan
Susilo menegaskan, ormas tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial dua arah.
Ormas mampu menyalurkan aspirasi, menyampaikan permasalahan masyarakat, serta mendukung percepatan pembangunan daerah.
Ia menilai keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk peran ormas sebagai katalisator yang menjembatani hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Di Kota Semarang sendiri, FKSB bersama FORSOS dan sejumlah lembaga keagamaan memegang peran penting sebagai mitra Pemerintah Kota.
Namun, Susilo melihat adanya persoalan internal di FKSB yang berpotensi menghambat kinerja organisasi.
Sorotan terhadap Kondisi Internal FKSB
Sebagai salah satu pendiri FORSOS, Susilo mengaku prihatin terhadap dinamika di dalam FKSB.
Ia menilai adanya kecenderungan eksklusivitas yang memicu konflik internal, mempersempit ruang kolaborasi, serta menurunkan efektivitas pengambilan keputusan.
“Kita perlu menyatukan dan menyelaraskan gerak serta langkah kita bersama pemerintah dan seluruh masyarakat dalam komponen masyarakat, demi keberhasilan pembangunan tersebut”.
“Janganlah lagi kita bersifat eksklusif dan menonjolkan perbedaan-perbedaan, tetapi sebaliknya harus membina perdamaian, kerharmonisan dan kerukunan antar sesama kita,” ungkap Susilo dalam keterangannya, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, pola pikir yang terlalu mengutamakan kepentingan kelompok tertentu membuat organisasi kehilangan fungsi utamanya sebagai wadah yang inklusif.
Kondisi tersebut juga dinilai menghambat kemampuan FKSB dalam merangkul seluruh elemen masyarakat secara luas.
Harapan Restrukturisasi dan Regenerasi
Susilo mendorong adanya restrukturisasi kepengurusan FKSB guna menghadirkan wajah baru yang lebih terbuka dan modern.
Ia berharap kepengurusan ke depan mampu menghilangkan sekat-sekat lama serta membuka ruang bagi seluruh golongan tanpa diskriminasi.
Ia juga menyoroti isu sensitif terkait syarat pencalonan Ketua FKSB yang dinilai terlalu membatasi.
Ketentuan yang mengharuskan calon berasal dari internal FKSB dinilai berpotensi menutup peluang bagi generasi muda potensial dari organisasi lain yang telah terdaftar di Kesbangpol Kota Semarang.
Kritik terhadap Gaya Kepemimpinan
Susilo secara tegas mengkritik pola kepemimpinan yang cenderung tertutup dan sentralistik.
Ia menilai pengambilan keputusan yang tidak melibatkan anggota maupun pemerintah menunjukkan gejala otoritarianisme dalam organisasi sosial.
Ia pun meminta Wali Kota Semarang dan Kepala Kesbangpol untuk memberikan perhatian serius terhadap dinamika tersebut, demi menjaga iklim organisasi yang sehat dan demokratis.
Seruan untuk Kebersamaan dan Nasionalisme
Dalam pernyataannya, Susilo mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk menyatukan langkah demi keberhasilan pembangunan.
Ia menekankan pentingnya meninggalkan sikap eksklusif dan mulai membangun harmoni, toleransi, serta kerukunan antarormas.
Mengacu pada Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas, ia mengingatkan bahwa fungsi ormas mencakup peran edukatif, penyalur aspirasi, katalisator pembangunan, serta kontrol sosial.
Dorongan Sinergi dan Keterbukaan
Susilo menegaskan bahwa FKSB harus menjadi penguat nilai kebangsaan dan nasionalisme di Kota Semarang.
Ia juga mendorong agar organisasi tersebut aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah serta melaporkan keberadaan ormas secara transparan melalui Kesbangpol.
“FKSB wajib menjadi penguatan Kebangsaan terhadap Ormas dengan melaporkan keberadaan Ormas di Kota Semarang kepada pemerintahan di daerah melalui Bakesbangpol Kota Semarang dan melakukan kerja sama dengan Pemerintah mendukung program pemerintah,” ujar Susilo.
Selain itu, ia mengajak seluruh ormas dan LSM untuk mengedepankan sinergi, keterbukaan, dan dialog konstruktif guna menemukan kesamaan visi dalam membangun daerah.
Penutup: FKSB Harus Berbenah
Di akhir pernyataannya, Susilo berharap FKSB dapat membuka diri terhadap kehadiran anggota dan pengurus baru, baik dari internal maupun eksternal organisasi.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk menghadirkan perubahan menyeluruh yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
“FKSB harus menjadi rumah bersama yang inklusif, mampu merangkul semua pihak, serta benar-benar berkontribusi bagi kemajuan Kota Semarang,” tegasnya.




Tinggalkan Balasan