Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) Provinsi Bengkulu terus mengedukasi masyarakat mengenai dunia perkopian melalui seri infografis yang menjelaskan perjalanan kopi, mulai dari kebun hingga menjadi secangkir minuman siap saji.

‎ASKI Bengkulu Edukasi Masyarakat, Yosia Yodan: Kenali Proses Kopi agar Lebih Menghargai Setiap Cangkir.


‎Ketua Umum DPD ASKI Provinsi Bengkulu, Yosia Yodan, mengatakan pemahaman masyarakat terhadap kopi tidak hanya sebatas membedakan jenis Arabika dan Robusta, tetapi juga perlu mengetahui berbagai faktor yang membentuk karakter rasa kopi.



‎”Setiap cangkir kopi memiliki cerita dan proses yang panjang. Karakter rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga dipengaruhi lingkungan tumbuh, proses pascapanen, tingkat roasting, hingga metode penyeduhan. Karena itu, masyarakat perlu memahami perjalanan kopi agar semakin menghargai hasil kerja seluruh pelaku di industri kopi,” ujar Yosia Yodan.

‎Dalam materi edukasi tersebut dijelaskan bahwa dua spesies kopi yang paling banyak dibudidayakan di dunia adalah Arabika (Coffea arabica) dan Robusta (Coffea canephora). Arabika umumnya memiliki aroma yang lebih kompleks dengan tingkat keasaman (acidity) yang lebih terasa, sedangkan Robusta dikenal memiliki body lebih kuat dan kandungan kafein yang lebih tinggi.

‎Menurut Yosia, tidak ada jenis kopi yang lebih baik dibandingkan lainnya karena masing-masing memiliki karakter serta penggemarnya sendiri.

‎”Pilihan kopi sepenuhnya bergantung pada preferensi penikmatnya. Yang terpenting adalah memahami karakter setiap kopi sehingga konsumen dapat menikmati cita rasa terbaik sesuai selera,” katanya.

‎ASKI Bengkulu juga menjelaskan bahwa cita rasa kopi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh, seperti ketinggian, jenis tanah, curah hujan, intensitas sinar matahari, dan suhu. Faktor-faktor tersebut membentuk karakter biji kopi bahkan sebelum dipanen.

‎Selain itu, proses pascapanen juga berperan besar terhadap profil rasa. Metode natural umumnya menghasilkan karakter buah yang lebih menonjol, honey menghadirkan karakter yang berada di antara natural dan washed, sedangkan washed menghasilkan cita rasa yang lebih bersih atau clean cup.

‎Tidak hanya itu, proses roasting menjadi tahapan penting dalam mengembangkan aroma dan cita rasa kopi. Tingkat light roast cenderung mempertahankan karakter asli biji kopi, medium roast menawarkan keseimbangan antara keasaman, kemanisan, dan body, sedangkan dark roast menghasilkan body lebih kuat dengan karakter panggang yang lebih dominan.

‎Yosia juga menegaskan bahwa metode penyeduhan, mulai dari V60, French Press, Espresso, Aeropress hingga Moka Pot, akan menghasilkan karakter rasa yang berbeda meskipun menggunakan biji kopi yang sama.

‎”Tidak ada metode seduh yang paling benar. Semua kembali pada karakter kopi yang digunakan dan selera penikmatnya. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat semakin memahami bahwa kualitas secangkir kopi merupakan hasil kolaborasi panjang mulai dari petani, pengolah pascapanen, roaster, barista hingga akhirnya dinikmati konsumen,” jelasnya.

‎Melalui program edukasi tersebut, ASKI Bengkulu berharap masyarakat semakin bangga terhadap kopi lokal dan mendukung pengembangan ekosistem kopi Bengkulu agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

‎”Kami ingin membangun budaya minum kopi yang tidak hanya menikmati rasanya, tetapi juga menghargai proses, kerja keras petani, dan seluruh pelaku industri kopi. Dengan pemahaman itu, kopi Bengkulu akan memiliki nilai tambah yang lebih besar di mata masyarakat,” tutup Yosia Yodan.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.