SEMARANG, Berita Merdeka Online – Warga Semarang harus kuat dalam pemahaman nilai-nilai santri dan ekonomi. Hal tersebut disampaikan Bakal Calon Wakil Wali Kota Semarang, Dr. Dr. Ir. H. Ady Setiawan, SH, MH, MM, MT, usai acara pengajian umum dalam rangka haul ke-VI Pengasuh Ponpes AT TAUHID Gayamsari Semarang, Almaghfurlah KH. Muhammad Sastro Sugeng Al Haddad, BA, di Kompleks Ponpes AT TAUHID, Jalan Gayamsari Selatan Raya, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jumat (17/05) malam.
“Kita ingin santri menguasai ilmu agama dengan pemahaman yang baik, menanamkan nilai-nilai agama yang moderat dan toleran tanpa meninggalkan pondasi-pondasi ekonomi sehingga mereka memiliki dasar untuk mengubah hidupnya. Kedepannya, kita harus menggalakkan santripreneur di Kota Semarang,” ujarnya.
Pria yang pernah menjadi santri di Ponpes AT TAUHID Semarang pada tahun 2003-2004 ini menuturkan, berdasarkan pengamatan dan pengalamannya sebagai praktisi lapangan, pondok pesantren di Kota Semarang memerlukan perhatian lebih, terutama di era digitalisasi dan teknologi saat ini. Banyak pengasuh dan pengelola pesantren yang sudah tertinggal.
“Jika Allah memberikan amanah dan masyarakat Kota Semarang mendukung serta mempercayakan saya untuk mengabdi di Pemerintah Kota Semarang, saya akan memprioritaskan peran dunia pesantren. Peran-peran santri akan kita optimalkan dan kita dorong untuk menjadi santripreneur,” ucapnya.
Direktur PDAM Indramayu itu menegaskan bahwa santri harus lebih diberdayakan dan tidak boleh tertinggal dalam bidang ekonomi.
“Untuk menjadi kuat secara ekonomi, santri memang membutuhkan keuletan dalam membangun ekonomi. Saya yakin santri-santri yang sungguh-sungguh bisa berhasil mengatasi masalah ini dan menjawab tuntutan serta tantangan zaman,” tegasnya.
Ketua PW LPNU Jawa Tengah periode 2014-2018 itu menambahkan, belajar dari sosok Almaghfurlah KH. Muhammad Sastro Sugeng Al Haddad, yang merupakan seorang ulama dan tokoh masyarakat yang sangat membaur dengan masyarakat, memberikan kesejukan, kedamaian, serta mengajarkan dan menggerakkan ekonomi.
“Kiai Sugeng tidak hanya memberikan santri ilmu keagamaan, tauhid, dan ilmu hati, tetapi juga ilmu-ilmu ekonomi. Santri diajari berdagang, dibimbing bahkan hingga dinikahkan, dibantu membangun rumah, dan menata ekonominya,” kenangnya.
Masih menurut Wawan, sapaan akrab Ady Setiawan, ajaran Kiai Sugeng adalah menjaga hati agar tetap damai dengan salawat dan dzikir kepada Allah SWT, sehingga dipercaya masyarakat untuk menyembuhkan penyakit hati dan fisik melalui terapi dzikir atau amalan yang diberikan.
“Saya mengingatkan diri saya dan mengajak para santri, jamaah, dan masyarakat untuk senantiasa meneladani ajaran beliau dan terus melanjutkan perjuangannya,” pungkasnya. (lim)




Tinggalkan Balasan