Muara Teweh,beritamerdekaonline. Di Pulau Kalimantan Ritual Wara, merupakan warisan budaya, tradisi dari leluhur yang memilik makna teologi, yang sampai saat ini masih dikaksanakan. Acara wara selalu terlahir sebagai sebuah keyakinan terhadap tujuan akhir kehidupan’ melalui sebuah prosesi yang sangat menakjubkan warisan leluhur.

Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara Edi Franaji dari Partai Nasdem mengatakan pada media saat ini pihaknya benar melaksanakan ritual Wara dan penusukan Kerbau untuk enam leluhurnya, di desa Juju Baru, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, Sabtu (28/10/2023).

Franaji menambahkan, menurut agama Hindu Kaharingan bahwa puncak dari ritual kematian adalah Naping Salimat, artinya tidak ada lagi acara besar setelah ini.

“Kita harus menjunjung tinggi nilai Adat Budaya sebagaimana upaya penghayatan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk kegiatan budaya. Pelaksanaan ritual Wara ini dapat pahami sebagai sebuah bentuk kegiatan budaya atau tradisi relegi”, ucap Fran.

Edi Franaji dari Komisi II yang siap kembali maju sebagai calon anggota Legeslatif Dapil 2 nomor urut 1 dalam Pemilu 14 Februari tahun 2024, kembali menerangkan Tradisi Wara adalah ciri khas kita orang Dayak, jadi sangat perlu dipertahankan dan dilestarikan.

Ritual wara yang kita dilaksanakan pada hari adalah menyangkut kepercayaan kita sebagai orang Dayak walaupun kita yang melaksankannya sebagian Umat Kristen namun nenek moyang dan leluhur kami asli penganut Agama Kaharingan,tandasnya

Kepala Desa Juju Baru Titelman, pada kesempatan itu mengatakan pihaknya sangat mendukung acara Ritual Wara ini, atau rukun kematian tahap akhir yang dilaksanakan oleh Keluarga Edi Franaji, dan wara ini dilaksanakan sesuai dengan aturan Adat Kaharingan.

“Kami pemerintah Desa Juju Baru dan atas nama masyarakat sangat mengapresiasi wara yang dilaksanakan dan semoga sukses sampai akhir, pungkas kadesTitelman.(car)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.