Rejanglebong, Beritamerdekaonline.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menyelenggarakan Forum BUKIT KABA 2025 (Bincang Urusan Ekonomi dan Kebijakan Terintegrasi Kajian dan Statistik Terbaru) di Aula Hotel Sepanak, Curup, Kabupaten Rejang Lebong. Forum ini menjadi bagian dari upaya strategis Bank Indonesia untuk memperkuat fungsi advisory, penyebaran hasil kajian dan data, serta koordinasi antar lembaga guna mendukung ketahanan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah dataran tinggi Bengkulu.

Forum tersebut melibatkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah dengan menghadirkan narasumber dari Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu. Hadir pula sejumlah kepala daerah, di antaranya Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari, Wakil Bupati Kepahiang Abdul Hafidz, dan Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong Nurbaiti, yang mewakili Bupati Lebong. Forum ini juga diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari organisasi perangkat daerah (OPD), sektor perbankan, pelaku usaha, serta kalangan akademisi di wilayah Rejang Lebong dan sekitarnya.
Dalam forum ini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu Mohamad Irfan Surya Wardana, dan Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal menyampaikan paparan penting terkait kondisi makroekonomi, kebijakan fiskal dan belanja daerah, serta potensi ekonomi di wilayah dataran tinggi. Selain itu, Bupati Rejang Lebong, Wakil Bupati Kepahiang, dan Plt. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong turut memberikan pandangan dan langkah strategis dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah.
Data terbaru menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi nasional masih terjaga meski dihadapkan pada ketidakpastian global. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 4,87 persen (yoy), sementara Provinsi Bengkulu mencatat angka yang hampir sama, yakni 4,84 persen (yoy). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh sektor pertanian, perdagangan, dan transportasi. Wilayah dataran tinggi menjadi tulang punggung ketahanan pangan dengan produk unggulan seperti padi, jagung, cabai, bawang, kopi, dan berbagai hasil hortikultura.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat menegaskan perlunya sinergi antara kebijakan moneter, kebijakan makroprudensial, dan sistem pembayaran.
”Fokus pembangunan di dataran tinggi Bengkulu diarahkan pada penguatan hilirisasi pertanian dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam. Selain itu, pengembangan infrastruktur konektivitas antar tiga kabupaten perlu diperkuat, disertai sinergi dalam forum komunikasi dan koridor ekonomi, serta pengembangan investasi dan pariwisata yang terpadu,” ujarnya.
Dari sisi fiskal, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu Mohamad Irfan Surya Wardana menyatakan bahwa optimalisasi Transfer ke Daerah (TKD) dan peningkatan efektivitas belanja publik menjadi hal utama.
”Saat ini, komposisi belanja daerah masih banyak terserap untuk belanja pegawai dan operasional, sedangkan belanja modal masih relatif rendah,” ujarnya.
Oleh karena itu, percepatan realisasi belanja modal serta program prioritas seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik, Biaya Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas, dan pengembangan infrastruktur sangat diperlukan guna mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal, sektor pertanian masih menjadi sektor utama di tiga kabupaten dataran tinggi. Namun, terdapat tren penurunan pangsa sektor pertanian yang seiring dengan meningkatnya peran sektor jasa publik dan perdagangan.
”Oleh karena itu, upaya peningkatan produktivitas melalui modernisasi, efisiensi rantai pasok, serta hilirisasi komoditas unggulan menjadi sangat penting agar sektor pertanian tetap menjadi penggerak utama ekonomi,” ujarnya.
Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari menyampaikan bahwa wilayahnya menghadapi tantangan defisit beras akibat alih fungsi lahan. Namun, surplus masih tercatat pada komoditas jagung dan cabai.
”Pemerintah daerah telah menginisiasi program cetak sawah baru seluas lebih dari 800 hektar untuk mengatasi defisit dan memperkuat posisi Rejang Lebong sebagai lumbung pangan di dataran tinggi,” ujarnya.
Wakil Bupati Kepahiang Abdul Hafidz mengungkapkan potensi besar yang dimiliki Kabupaten Kepahiang di sektor pertanian dan pariwisata, dengan produk unggulan seperti kopi robusta, teh Kabawetan, serta destinasi alam seperti Danau Suro dan Curug Embun.
”Sektor primer menyumbang lebih dari 47 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kepahiang pada triwulan pertama 2025. Oleh sebab itu, Pemkab Kepahiang menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah produk, promosi agrowisata, serta penguatan kemitraan strategis dan konektivitas antar wilayah,” ucapnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong Nurbaiti menekankan pembangunan yang berkeadilan dan berwawasan lingkungan, dengan fokus pada diversifikasi ekonomi dan optimalisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
”Pemerintah Kabupaten Lebong juga mendorong sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam rangka memperluas inklusi keuangan, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta percepatan transformasi ekonomi lokal berbasis potensi pertanian dan sumber daya alam unggulan,” ungkapnya.
Forum BUKIT KABA 2025 juga menjadi ajang penguatan koordinasi pengendalian inflasi pangan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) serta kerja sama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Strategi 4K yang meliputi Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif dijalankan guna menjaga inflasi di Provinsi Bengkulu tetap berada dalam target nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Sebagai ruang dialog yang melibatkan banyak pihak, BUKIT KABA 2025 menggabungkan perspektif fiskal, moneter, dan statistik dengan kebijakan daerah. Forum ini diharapkan mampu mendorong sinergi dan kolaborasi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di wilayah dataran tinggi Provinsi Bengkulu. Setiap kabupaten memiliki keunggulan yang perlu diintegrasikan antara sektor pertanian, pariwisata, dan industri agar daya saing daerah meningkat serta pembangunan dapat berjalan secara lestari.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan