Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, menegaskan bahwa wilayah Tengah Aceh memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, pernah menjadi pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia saat agresi militer Belanda. Melalui keberadaan Radio Rimba Raya yang terus menyiarkan kabar keberlangsungan negara, Indonesia berhasil mempertahankan eksistensinya di mata dunia. Tagore juga mengingatkan bahwa Tugu Radio Rimba Raya adalah simbol perjuangan yang harus dijaga, serta mengaitkannya dengan tradisi pacuan kuda Gayo sebagai bagian dari warisan budaya dan penghormatan terhadap perjuangan kemerdekaan.
Bener Meriah, Berita Merdeka Online – Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, mengungkapkan fakta bersejarah bahwa wilayah Tengah Aceh pernah menjadi ibu kota negara Republik Indonesia. Pernyataan ini disampaikannya dalam pembukaan event pacuan kuda tradisional Gayo di Lapangan Sengeda, Bener Meriah, Aceh, Senin (28/4/2025).
Dalam sambutannya, Tagore Abubakar menegaskan bahwa generasi muda dan masyarakat Gayo perlu mengetahui sejarah perjuangan bangsa. Keberadaan Tugu Radio Rimba Raya di Bener Meriah, lanjutnya, bukanlah tanpa alasan. Monumen itu dibangun untuk mengenang peristiwa besar saat Indonesia berada dalam masa darurat dan dipimpin oleh Amir Sjarifuddin Parwira Negara.
Saat agresi militer Belanda kedua menggempur Jakarta, Presiden Soekarno dan beberapa tokoh nasional diasingkan ke Pulau Bangka. Untuk menjaga kelangsungan pemerintahan, mandat darurat diserahkan kepada Amir Sjarifuddin. Demi mempertahankan eksistensi negara, Amir membawa perangkat Radio Republik Indonesia (RRI) dan bergerilya ke wilayah Aceh Tengah, tepatnya di Kampung Burni Bius dan Jamur Barat.

Dari lokasi tersebut, Amir menjalankan perannya sebagai Presiden Darurat Republik Indonesia. Namun, karena keberadaannya diketahui oleh pihak Belanda, radio tersebut kemudian dipindahkan ke daerah Rime Raya — kawasan hutan yang lebih aman. Dari sanalah, siaran Radio Republik Indonesia tetap mengudara, menandakan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih ada dan tetap berdaulat.
Penyiaran melalui RRI ini kemudian diteruskan oleh Radio New Delhi, India, sehingga menguatkan posisi Indonesia di mata dunia dan mendorong pengakuan internasional atas kemerdekaan RI.
Tagore juga menegaskan bahwa Tugu Radio Rimba Raya, yang menjadi bagian penting dari lambang daerah Bener Meriah, adalah aset bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
“Alasan saya menyampaikan sejarah ini dalam event pacuan kuda tradisional Gayo karena kuda memiliki makna penting dalam perjalanan bangsa. Selain menjadi alat transportasi masa lampau, kuda digunakan dalam perang kemerdekaan dan hingga kini tetap dipakai dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus,” tutup Tagore Abubakar, yang juga mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. (MAN)



Tinggalkan Balasan