Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Komoditas cabai merah kembali menjadi penyumbang utama inflasi di Provinsi Bengkulu pada periode terkini. Kenaikan harga komoditas hortikultura tersebut memberikan andil terbesar terhadap laju inflasi daerah, seiring berkurangnya pasokan akibat faktor cuaca dan tingginya curah hujan di sejumlah sentra produksi.

Cabai Merah Kembali Sumbang Inflasi Bengkulu, TPID Perkuat Langkah Pengendalian Harga.


‎Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memaparkan Ringkasan Eksekutif Inflasi Bengkulu dalam Rapat Koordinasi High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Selasa (9/6).

‎Dalam paparannya, Wahyu menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,85 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,61 persen, menjadikannya kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar terhadap kenaikan harga pada periode tersebut.

‎“Komoditas cabai merah menjadi pendorong utama inflasi dengan andil sebesar 0,43 persen, disusul minyak goreng sebesar 0,06 persen. Sementara itu, daging ayam ras menjadi komoditas penahan inflasi dengan andil minus 0,11 persen,” ujar Wahyu dalam rapat tersebut.

‎Menurutnya, lonjakan harga cabai merah dipengaruhi oleh menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi. Tingginya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan penurunan kualitas hasil panen sekaligus mengurangi volume produksi yang masuk ke pasar.

‎Kondisi cuaca yang tidak menentu juga berdampak pada proses distribusi dan ketersediaan pasokan di tingkat pedagang. Akibatnya, harga cabai merah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan memberikan tekanan terhadap inflasi daerah.

‎Selain cabai merah, minyak goreng turut menjadi komoditas yang mendorong inflasi. Kenaikan harga minyak goreng dipengaruhi oleh meningkatnya harga bahan baku crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah di pasar global. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah kenaikan biaya distribusi serta biaya kemasan yang berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.

‎Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang berperan menahan laju inflasi. Salah satunya adalah daging ayam ras yang mengalami penurunan harga. Penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya produksi peternakan, berkurangnya biaya operasional peternak, serta bertambahnya pasokan yang masuk dari luar daerah.

‎Dalam rapat koordinasi tersebut, TPID Provinsi Bengkulu bersama berbagai pemangku kepentingan membahas sejumlah langkah strategis guna mengantisipasi potensi kenaikan harga pada bulan-bulan mendatang. Beberapa upaya yang akan terus diperkuat antara lain pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah sesuai petunjuk teknis Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

‎Selain itu, penguatan koordinasi antarinstansi juga menjadi fokus utama dalam pengendalian inflasi. Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia akan terus melakukan pemetaan terhadap komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi di masing-masing wilayah kabupaten dan kota.

‎Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Bengkulu menegaskan komitmennya untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Bank Indonesia, Perum Bulog, distributor, serta berbagai pihak terkait lainnya. Langkah tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan pangan daerah, dan memastikan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok masyarakat.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bengkulu, Nelly Alesa, menyampaikan bahwa masyarakat dapat memantau perkembangan harga komoditas secara langsung melalui aplikasi Ben Connect.

‎Menurut Nelly, keberadaan aplikasi tersebut diharapkan mampu memberikan akses informasi harga secara cepat dan akurat sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi pasar secara real time.

‎Melalui penguatan sinergi dan implementasi strategi Aksi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif, inflasi di Bengkulu diharapkan tetap berada pada level yang terkendali. Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat terus terjaga dan stabilitas perekonomian daerah tetap terpelihara.

‎Rapat koordinasi ditutup dengan penandatanganan Berita Acara High Level Meeting TPID Provinsi Bengkulu sebagai bentuk komitmen bersama seluruh pihak dalam menjaga stabilitas harga serta mengendalikan inflasi daerah secara berkelanjutan.