Oleh : Syarif Fidiyatulloh, S.Pd., M.Ag.

Beritamerdekaonline.com – Pendidikan Islam sejak awal berdiri bukan hanya sebagai institusi yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai tempat menanamkan nilai-nilai dakwah, akhlak, amanah, dan kemanusiaan. Karena itu, keberhasilan sebuah sekolah Islam seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya siswa, megahnya gedung, atau tingginya biaya pendidikan, tetapi juga dari bagaimana lembaga tersebut memperlakukan orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi, yaitu para guru.

Syarif Fidiyatulloh, S.Pd., M.Ag.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan pertumbuhan sekolah-sekolah Islam yang sangat pesat. Gedung baru berdiri, fasilitas semakin lengkap, ruang kelas berpendingin udara, laboratorium modern, lapangan yang representatif, hingga promosi yang begitu masif di media sosial. Tidak sedikit pula sekolah yang menetapkan biaya masuk dan biaya pendidikan yang relatif tinggi dengan alasan peningkatan mutu layanan pendidikan.

Tentu, pembangunan fasilitas bukanlah sesuatu yang keliru. Justru hal itu merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, ada satu pertanyaan yang patut menjadi bahan muhasabah bersama: apakah pertumbuhan aset sekolah juga diikuti dengan pertumbuhan kesejahteraan dan perlindungan terhadap guru?

Masih ditemukan tenaga pendidik yang mengabdi bertahun-tahun, tetapi belum mendapatkan perlindungan dasar berupa BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Padahal, perlindungan sosial bukanlah hadiah atau bentuk belas kasihan yayasan, melainkan bagian dari tanggung jawab terhadap tenaga kerja dan bentuk penghormatan terhadap martabat seorang guru.

Ironisnya, di saat pembangunan gedung terus dilakukan dan biaya pendidikan terus meningkat, masih ada guru yang harus memikirkan sendiri biaya pengobatan ketika sakit, atau tidak memiliki perlindungan ketika mengalami risiko kecelakaan kerja maupun memasuki masa tua. Kondisi seperti ini tentu mengundang pertanyaan: apakah pembangunan lembaga hanya difokuskan pada aset yang tampak, sementara aset paling berharga, yaitu guru, justru kurang mendapatkan perhatian?

Sekolah boleh memiliki gedung bertingkat, tetapi ruh pendidikan tidak dibangun dengan beton dan baja. Ruh pendidikan dibangun oleh keteladanan guru, kesabaran mereka mendidik, dan keikhlasan mereka membentuk karakter peserta didik setiap hari. Tanpa guru, gedung hanyalah bangunan kosong.

Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam The Concept of Education in Islam menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik (the good man), bukan sekadar menghasilkan keuntungan ekonomi.
Sementara KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menempatkan penghormatan kepada guru sebagai bagian dari kemuliaan ilmu itu sendiri. Artinya, memuliakan guru bukan sekadar urusan administrasi, tetapi juga bagian dari implementasi nilai-nilai Islam.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi seluruh sekolah Islam. Masih banyak yayasan yang telah mengelola lembaganya secara profesional, memberikan perlindungan kepada guru, serta berusaha menyeimbangkan antara keberlanjutan keuangan dan kesejahteraan tenaga pendidik. Mereka patut diapresiasi dan dijadikan teladan.

Namun, bagi lembaga yang masih menjadikan kesejahteraan guru sebagai prioritas kesekian, inilah saatnya melakukan evaluasi. Sudah waktunya paradigma pengelolaan pendidikan bergeser dari sekadar membangun aset fisik menuju membangun kualitas sumber daya manusia. Sebab, sekolah tidak akan dikenang karena megahnya gedung, tetapi karena mulianya nilai yang dijalankan.

Jangan sampai sekolah Islam dikenal karena bangunannya yang megah, sementara para gurunya masih berjuang memperoleh hak-hak dasar. Sebab, keberkahan pendidikan tidak lahir dari tingginya dinding sekolah, melainkan dari keadilan yang dirasakan oleh orang-orang yang mengabdikan hidupnya di dalamnya. Jika guru masih dipandang sebagai beban biaya, bukan sebagai investasi peradaban, maka yang perlu dibangun bukan lagi gedungnya, tetapi cara pandang pengelolanya.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.