Bengkulu Utara, Beritamerdekaonline.com – Masyarakat Lebong Tandai Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, bukannya mengucapkan kata “merdeka merdeka merdeka” di moment perayaan 17 Agustus Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke-80. Akan tetapi sebaliknya masyarakat Lebong Tandai Napal Putih Bengkulu Utara, dihari kemerdekaan yang sudah di usia ke 80 tahun ini belum juga ada solusi akses jalan, dan harus menangis karna hasil perkebunan yang kami (mereka- red) panen dengan kondisi buah sudah banyak yang busuk menumpuk dimana sudah berminggu-minggu lamanya tidak bisa dijual ke luar Lebong Tandai.
“Sampai dengan saat ini belum ada perhatian dari Pemerintah kami yang disini, apa memang tidak benar diperhatikan. Sebaliknya banyak para pejabat juga wakil rakyat yang datang ke Desa Lebong Tandai Bengkulu Utara (BU), entah apa tujuanya apa memang hanya mencari simpatisan dari kami, atau perhatian dari publik atau juga suara saja ketika waktu kampanye sebelumnya, agar mendapat suara untuk menduduki kursi yang mereka-mereka ini inginkan itu.”

“Misnawati masyarakat Lebong Tandai juga mewakili, kepada media dengan raut wajah berkaca-kaca, dan terlihat meneteskan air mata mengatakan yang jelas kami masyarakat Lebong Tandai BU, saat ini sudah paham, dan juga bagaimana mau berbicara merdeka jika masih demikian, kami sebagai masyarakat seperti belum merasa di perhatikan. Dan apalagi ini di moment HUT RI Ke- 80 tahun, masih saja jalan yang kami lalui beralaskan tanah, jika hujan terlihat seperti kubangan kerbau.” Ujarnya yang keseharian bekerja sebagai Petani, Minggu (17/8/2025).
“Berbicara kecewa, saya selaku masyarakat Lebong Tandai harus mengungkapkan perasaan emosi kekecewaan ini, jika dikatakan mengapa salah satu bukti apa mereka buta dan omongan saja, diceritakanya pernah ada beberapa anggota DPRD, yang saat ini menjadi anggota DPRD Provinsi Bengkulu, itu sudah lama menginap bermalam di kediaman saya namun apa kata manis yang pernah saya dengar keluar dimulut mereka sepertinya hanya janji-janji saja mungkin janji politik seketika itu diutarakan. Namun mana kenyataanya, tidak usalah disebut nama mungkin tahulah mereka-mereka itu karna saya disini masih menjaga perasaan mereka dan tentunya agar suara kami ini didengar.”
“Kondisi saat ini kami mau berharap ke siapa lagi, saat ini masyarakat Lebong Tandai Bengkulu Utara Bengkulu, termasuk saya mewakili suara masyarakat sudah berminggu-minggu belum bisa menjual hasil perkebunan berupa buah sawit, dan begitu juga kendalanya sudah berminggu-minggu kendaraan roda empat yang biasa setiap harinya masuk mengangkut membeli hasil panen kami akan tetapi tidak bisa masuk ke Desa Lebong Tandai Bengkulu Utara, dikarnakan hujan dalam beberapa minggu ini, akibatnya kondisi jalan yang dimana masih beralaskan tanah kuning tersebut berwujud kubangan kerbau terlihat jika hujan, jika memang tidak percaya suruh mereka-mereka wakil rakyat yang duduk-duduk dikursi tersebut turun langsung kelapangan.”
Terpisah, jadi untuk usulan pak Kades katanya belum di kabulkan atau mungkin ditunda. sering Kepala Desa (Kades) berjuang minta usulan untuk jalan Lebong Tandai, jika memang belum bisa permintaan di aspal seperti jalan di Kota Arga Makmur atau Bengkulu, setidaknya adalah sedikit perhatian seperti pengoralan tapi sampai dengan saat ini belum ada gerakan dari atas. Usulan kami sebelumnya tidak begitu repot hanya minta pengoralan (pengerasan jalan- red) setidaknya jika hujan bisalah kendaraan roda empat masuk menggangkat atau menjual hasil dari panen kami di Desa Lebong Tandai ini, agar hasil kebun masyarakat lancar dan tidak membusuk karna tidak dapat dikeluarkan akibat jalan yang tidak dapat dilalui kendaraan terlebih musim hujan begini. Tetapi jika memang di Aspal alangkah lebih baik lagi.
Lanjut Misnawati pernah kami inisiatip ingin menarik dengan sapi atau kerbau, untuk mengangkat mengantarkan hasil perkebunan tersebut ke roli/molek, tujuanya berharap roli/molek bisa menggangkut hasil panen perkebunan keluar Lebong Tandai untuk bertahan hidup namun dari pengendara molek menolak dengan bermacam alasan-alasanlah, disitulah kami menangis. Setelah gagal kami hanya pasrah sajalah dan juga kami masyarakat berharap betul jalan poros (utama- red) Lebong Tandai Bengkulu Utara, jalur yang dilalui kendaraan roda empat untuk mengangkut menjual hasil perkebunan kami dapat diperhatikan, jika memang tidak diaspal setidaknya ada pengoralan atau itu pengerasan dari pemerintah agar kendaraan roda empat bisa masuk ke Lebong Tandai untuk mengangkut hasil panen kami masyarakat Lebong Tandai, kami memohon sekali kepada Gubernur, Bupati atau Anggota DPRD Kabupaten atau Provinsi, sebagai perwakilan rakyat dapat memberikan solusi dari ini. Tutupnya. (Yapp)



Tinggalkan Balasan