Jambi, Berita Merdeka Online – Peringatan Hari Bhayangkara ke-79 yang digelar oleh Polda Jambi melalui kegiatan olahraga bersama, bukan sekadar simbol seremonial tahunan. Ini adalah bentuk pendekatan humanis yang patut diapresiasi. Dengan melibatkan masyarakat dan lintas instansi pemerintahan, Polri menunjukkan komitmennya untuk lebih dekat, lebih terbuka, dan lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Tema “Polri untuk Masyarakat” yang diangkat dalam kegiatan ini bukanlah slogan kosong. Kehadiran ratusan warga dari berbagai kalangan, serta keterlibatan aktif unsur Forkopimda Jambi—dari TNI, BNN, hingga lembaga peradilan—menegaskan bahwa institusi Polri tengah membangun jembatan kepercayaan yang selama ini mungkin sempat tergerus oleh berbagai dinamika sosial dan kritik publik.

Lebih dari sekadar menyatukan dalam gerak tubuh, olahraga bersama ini menyatukan spirit kebangsaan dan memperkuat akar solidaritas antar lembaga. Langkah ini penting, sebab negara hanya bisa berjalan stabil ketika aparat dan rakyatnya berjalan seirama.

Kegiatan ini juga mencerminkan bahwa institusi kepolisian kini mulai memahami bahwa tugas melindungi dan mengayomi masyarakat tidak hanya dijalankan di ruang hukum, tapi juga dalam ranah sosial, budaya, bahkan olahraga. Hadiah-hadiah doorprize yang dibagikan bukan hanya penarik minat, tetapi wujud penghargaan atas kebersamaan, atas semangat masyarakat yang terus mendukung institusi Polri.

Lebih jauh, olahraga bersama ini adalah representasi dari upaya Polri membangun public trust lewat pendekatan soft power. Di tengah tantangan zaman yang kompleks—mulai dari kejahatan digital, penyebaran hoaks, hingga gesekan sosial—Polri membutuhkan kepercayaan rakyat sebagai kekuatan utama dalam menjalankan mandat konstitusionalnya.

Kapolda Jambi dan warga mengikuti senam pagi bersama di Lapangan Mapolda Jambi dalam rangka Hari Bhayangkara ke-79.
Kapolda Jambi bersama masyarakat mengikuti olahraga bersama dalam rangka peringatan Hari Bhayangkara ke-79 di Lapangan Mapolda Jambi, Selasa (17/6/2025).

Namun demikian, kegiatan semacam ini tidak boleh berhenti menjadi sekadar momen tahunan. Perlu ada keberlanjutan dan konsistensi dalam menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap Polri. Ke depan, Polri harus terus menjembatani ruang-ruang partisipatif seperti ini dengan berbagai kegiatan lainnya yang inklusif, transparan, dan solutif.

Peringatan Hari Bhayangkara harus menjadi milik seluruh elemen bangsa, bukan hanya milik Polri. Sebab, keamanan dan ketertiban bukan semata urusan aparat, tapi tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat. Di sinilah pentingnya menjadikan momentum kebersamaan seperti ini sebagai titik tolak penguatan relasi sosial antara penegak hukum dan rakyatnya.

Jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan, kegiatan semacam ini akan melahirkan iklim sosial yang harmonis dan memperkuat posisi Polri sebagai garda terdepan dalam menjaga NKRI—bukan dengan kekuatan senjata, tapi dengan kehangatan hati dan kepercayaan publik.

Hari Bhayangkara ke-79 bukan hanya perayaan, tapi cermin transformasi. Dan dalam cermin itu, publik berharap melihat Polri yang benar-benar hadir untuk rakyat. (Joe)