Jakarta, Beritamerdekaonline.com – Warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dikejutkan oleh fenomena tak biasa. Sebuah video yang menampilkan air di Kali Jalan Artowijoyo, Serpong, berubah warna menjadi merah pekat seperti darah, viral di media sosial pada Minggu (5 Oktober 2025). Rekaman tersebut sontak memicu rasa penasaran dan kekhawatiran publik.
Dalam video berdurasi 30 detik yang tersebar luas di berbagai platform seperti Instagram, X (Twitter), dan TikTok, seorang warga merekam aliran air berwarna merah mencolok sambil terdengar suara heran di latar belakang.
“Di Rawabuntu, ih serem banget. Apa ini ya kira-kira? Airnya jadi merah!” ujar perekam video tersebut.

Dari tayangan video itu, terlihat air kali mengalir deras tanpa adanya tumpukan sampah atau aktivitas industri di sekitar lokasi. Warna merah yang tidak lazim ini menimbulkan dugaan beragam di kalangan netizen — mulai dari dugaan pencemaran limbah industri, reaksi kimia alami, hingga spekulasi fenomena langka lingkungan.
Menanggapi viralnya video tersebut, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, segera memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) untuk turun ke lokasi dan melakukan pengecekan langsung.
“Saya sudah tugaskan Kabid SDA untuk mengecek kondisi di lapangan. Kita pastikan penyebabnya agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat,” tegas Benyamin Davnie saat dikonfirmasi, Minggu siang (5/10/2025).
Benyamin menambahkan, pemerintah kota berkomitmen untuk menjaga kualitas air dan kebersihan lingkungan di wilayah Tangsel. Apabila ditemukan adanya unsur pencemaran, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk melakukan uji laboratorium.
Sementara itu, sejumlah warga sekitar Rawabuntu mengaku baru pertama kali melihat kejadian seperti ini.
“Biasanya air di sini cokelat kalau hujan deras, tapi kali ini merah banget. Kami takut itu limbah kimia,” ujar Rudi, warga sekitar.
Fenomena air kali berubah warna bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Sebelumnya, kasus serupa pernah ditemukan di beberapa daerah, dan umumnya disebabkan oleh limbah pewarna tekstil atau bahan kimia industri yang mencemari aliran sungai. Namun, untuk memastikan penyebab pasti di Serpong, diperlukan uji laboratorium air secara menyeluruh. (Heru Hermawan)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan