Oleh: Ahmad Rofiq

Sebentar lagi malam yang dinantikan oleh umat Islam akan tiba, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam ini diyakini lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Qadar (97): 1-5. Banyak umat Islam berharap dapat meraih malam yang penuh kemuliaan ini, karena di dalamnya terdapat keberkahan dan ketetapan dari Allah SWT.

Banyak ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi setiap bulan Ramadhan, dan Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana seharusnya kita mencarinya. Beliau beriktikaf selama sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan dan mengajak keluarganya untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Makna Lailatul Qadar

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, kata Qadar (قَدْر) dalam Al-Qur’an memiliki tiga makna utama: pertama, Penetapan dan Pengaturan: Lailatul Qadar adalah malam di mana Allah SWT menetapkan dan mengatur perjalanan hidup manusia. Hal ini ditegaskan dalam QS. Ad-Dukhan: 3-5:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah.”

Kedua, Kemuliaan: Malam ini memiliki keistimewaan karena dipilih sebagai waktu turunnya Al-Qur’an. Keutamaan malam ini dijelaskan dalam QS. Al-Qadar:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Selain itu, kemuliaan malam ini juga bisa dikaitkan dengan QS. Al-An’am: 91 yang menyebutkan bahwa kaum musyrik tidak memuliakan Allah sebagaimana mestinya.

Dan yang terakhir, Kesempitan: Lailatul Qadar juga bisa diartikan sebagai malam yang penuh sesak karena turunnya banyak malaikat ke bumi. Dalam QS. Al-Qadar disebutkan bahwa pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun membawa ketetapan Allah SWT hingga fajar tiba.

Makna kesempitan ini juga dikaitkan dengan QS. Ar-Ra’d: 26, di mana Allah menyebutkan bahwa Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki dan mempersempit bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Waktu Terjadinya Lailatul Qadar

Ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi. Beberapa pendapat yang terkenal di antaranya:

Malam ke-27 Ramadhan: Pendapat ini didasarkan pada perhitungan kata Lailatul Qadar yang disebut tiga kali dalam surat Al-Qadar. Kata ini terdiri dari sembilan huruf dalam bahasa Arab, dan jika dikalikan tiga, hasilnya adalah 27. Selain itu, ulama sufi seperti Abu Yazid Al-Busthami juga meyakini bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27.

Sepuluh malam terakhir, terutama malam-malam ganjil: Pendapat ini didukung oleh hadis dari ‘Aisyah r.a. yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Imam Al-Baghawy dalam kitab Ma’alim al-Tanzil menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Setelah itu, Jibril a.s. menurunkannya secara bertahap kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun.

Ibadah dan Doa di Malam Lailatul Qadar

Karena Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah di malam tersebut. Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada ‘Aisyah r.a. ketika beliau bertanya tentang doa yang sebaiknya dipanjatkan pada malam tersebut adalah:

“Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii”

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku).

Ibadah yang dianjurkan pada malam ini antara lain: Salat malam: Memperbanyak salat tahajud dan witir, membaca Al-Qur’an: Menghidupkan malam dengan tilawah Al-Qur’an, bersedekah: Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan serta berdzikir dan beristighfar: Memperbanyak mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya.

Mengapa Disebut Lailatul Qadar?

Ada beberapa alasan mengapa malam ini disebut Lailatul Qadar: sebagai malam penentuan takdir: Allah SWT menetapkan segala sesuatu untuk satu tahun ke depan, termasuk rezeki, umur, dan segala peristiwa yang akan terjadi. Ini sesuai dengan QS. Ad-Dukhan: 4.

Sebagai malam penuh kemuliaan: Malam ini lebih baik dari seribu bulan, yang berarti ibadah pada malam ini memiliki pahala yang luar biasa.

Sebagai malam yang sempit: Karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, malam ini menjadi penuh sesak oleh keberkahan dan rahmat Allah SWT.

Kesimpulan

Mayoritas ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir untuk meraih kemuliaan malam tersebut. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah, berdoa, dan memohon ampunan Allah SWT.

Semoga kita semua diberi kesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qadar dan keberkahan yang menyertainya. Allahu a’lam bish-shawab.

(Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA., adalah Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, dan Rektor IKMB yang segera beralih menjadi Universitas Agung Putra Indonesia (UAPI) Semarang)