SEMARANG, Berita Merdeka Online – Upaya Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, dalam penanganan stunting telah mendapatkan penghargaan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan diapresiasi oleh banyak pihak.

Program inovatif “Sayangi Dampingi Ibu Anak Kota Semarang” (SANPIISAN) yang diterapkan di Semarang berhasil menurunkan prevalensi stunting menjadi 1,14 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang masih 21,5 persen pada 2023. Keberhasilan ini diakui dalam United Nations Public Service Awards 2024.

Baca Juga: Jabatan Sekda Kota Semarang Memasuki Lima Tahun, Dewan: Bisa Dimutasi

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prof. Masrukhi, menilai penghargaan ini sebagai kejutan yang wajar mengingat signifikan inovasi penanganan stunting di kota tersebut.

Masrukhi menekankan pentingnya kerja keras dan pendekatan holistik yang dilakukan sejak dini, termasuk melalui penyuluhan dan layanan kesehatan yang mudah diakses bagi ibu hamil. Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) juga melihat penghargaan ini sebagai kesempatan bagi Kota Semarang untuk berbagi praktik terbaik dalam forum internasional dan mempromosikan duplikasi program inovatif ini ke daerah lain di Indonesia.

Baca Juga: Kota Semarang Jadi Satu-satunya Kota Besar Yang Masuk Nominasi TPID Award

“Saya melihat hal yang surprise dan wajar karena tampak inovasi penanganan stunting di Kota Semarang begitu sangat cantik artinya signifikan prosesnya,” ujarnya, Sabtu (29/6/2024).

Proses yang disebutnya signifikan itu ketika melihat angka prevalensi stunting secara nasional masih sebesar 21,5 persen pada 2023. Sementara Kota Semarang mampu menurunkan hingga 1,14 persen pada tahun yang sama.

Padahal target pemerintah pusat dalam menurunkan stunting yakni, 14 persen pada 2024 ini. Masrukhi menyebut, situasi menantang untuk mengentaskan stunting itu mampu didobrak oleh Kota Semarang.

Baca Juga: Groundbreaking Gedung Pelayanan Kanker Terpadu di RWSN, Wali Kota Semarang Ingatkan Target Pembangunan

“Padahal obsesi pemerintah menurunkan di angka 14 persen, tetapi itu belum mampu, masih tinggi angkanya. Kota Semarang luar biasa karena keberadaan stunting ini sudah 1,14 persen, ini sebuah angka yang luar biasa,” katanya.

Dia memandang kerja keras perempuan yang akrab disapa Mbak Ita tersebut bukan mendadak dilakukan. Menurutnya, langkah promotif, preventif, dan kuratif yang telah dikedepankan itu menjadi buah karya yang saat ini bisa dirasakan.

Salah satunya melalui program inovasi pelayanan publik program Sayangi Dampingi Ibu Anak Kota Semarang (SANPIISAN) yang dimulai sejak usia remaja dan bagi calon pengantin.

“Mbak Ita sangat intens dalam pencegahan stunting, saya beberapa kali ikut kegiatan penyuluhan bagi ibu hamil di beberapa lokasi tentang pentingnya mereka tetap menjaga kondisi gizi,” ujarnya.

Baca Juga: Ikut Nonton Bareng di Simpang Lima, Wali Kota Semarang Apresiasi Perjuangan Timnas Indonesia

Inovasi kolaborasi dalam menjamin ibu hamil hingga bersalin mendapatkan kemudahan akses layanan kesehatan melalui pemberdayaan masyarakat dan didukung sistem informasi melalui smartphone.

Sistem ini terintegrasi dari seluruh sektor dengan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Inovasi ini melibatkan OPD, stakeholder, masyarakat dan tenaga kesehatan yang bergerak bersama.

Selain mengatasi masalah kesehatan ibu, upaya ini juga dapat meningkatkan peran aktif masyarakat untuk deteksi dini gawat darurat pada ibu hamil dan menekan angka kematian ibu.

Sasaran program ini adalah ibu yang dinyatakan hamil, ibu bersalin dan bayi hingga usia 3 bulan dengan melakukan pendataan terintegrasi, intervensi di masyarakat dan perusahaan serta layanan persalinan terpadu.

Baca Juga: Inovasi SANPIISAN Bawa Kota Semarang Raih Penghargaan Internasional dari PBB

Termasuk langkah-langkah inovatif untuk dapat mempercepat pencapaian target tersebut, seperti inovasi yaitu, Rumah Pelita ( Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor Bagi Baduta).

“Sudah ada di 10 titik, dan program ini juga diapresiasi karena anak yang diasuh dan dijaga tiap hari mengalami kenaikan tinggi badan mencapai 60 persen,” imbuhnya.

Dia berharap dan mendorong capaian yang mendunia melalui penghargaan PB ini dapat diduplikasi ke seluruh daerah di Indonesia. Pengakuan dunia atas Kota Semarang ini juga akan menjadi semangat atau metode bagi pemerintah pusat dalam upaya mengentaskan stunting.

“Duplikasi ini penting, dan sudah tentu bukan berarti tidak diakui pemerintah pusat, ini tampaknya model ini akan diadopsi di daerah lain,” tandasnya.

Sementara itu, Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) mengungkap penghargaan atasi stunting oleh PBB itu membuka ruang-ruang keterlibatan Kota Semarang ikut dalam forum internasional.

Wakil Direktur Program Pattiro Semarang Mukhlis Raya mengatakan secara inovasi telah membuktikan bahwa teknologi bisa digunakan untuk menjalankan program.

“Salah satu prestasi juga, ketika satu daerah berhasil harusnya bisa diduplikasi ke daerah lain. Inovasi ini harus dishare ke kabupaten/ kota lain jadi bisa saling belajar,” pungkasnya. (day)