JAKARTA, BERITAMERDEKAONLINE.COM – Saat ini Muhammadiyah memiliki delapan kampus yang mahasiswanya mayoritas bukan beragama Islam. Kampus-kampus itu biasa disebut dengan istilah kampus ‘Kristen Muhammadiyah’ atau ‘Krismuha’, sebab 70 sampai 80 persen mahasiswanya beragama Kristen dan Katolik.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti.

Delapan kampus Krismuha tersebut di tersebar di Papua, NTT, dan Manado. Di Papua ada empat kampus Krismuha, di antaranya adalah Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Universitas Muhammadiyah Sorong, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Manokwari, Universitas Muhammadiyah Papua di Jayapura.

Di NTT ada tiga kampus Krismuha, yakni Universitas Muhammadiyah Kupang, STKIP Muhammadiyah Kalabahi di Alor, serta Universitas Muhammadiyah Maumere. Sedangkan di Manado ada satu kampus, yakni Universitas Muhammadiyah Manado.

Istilah kampus Kristen Muhammadiyah juga telah viral beberapa hari terakhir. Di akun TikTok @pandanganjogja, unggahan tentang kampus Kristen Muhammadiyah telah ditonton lebih dari 1,1 juta kali, dibagikan lebih dari 2.200 kali, dan dikomentari lebih dari 1.500 kali.

Salah satu komentar yang paling banyak mendapat respons warganet adalah pertanyaan tentang, apakah di dalam kampus-kampus Krismuha tersebut juga terdapat gereja. Sebab, meskipun mayoritas mahasiswanya beragama Kristen dan Katolik, namun Muhammadiyah adalah salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia.

BACA JUGA : Karena Warisan, Seorang Adik Tega Habisi Nyawa Abang Kandungnya Di Medan – Berita Merdeka Online

Muhammad Sayuti mengatakan bahwa saat ini tak ada gereja di dalam kampus-kampus Krismuha milik Muhammadiyah tersebut. Alasannya, karena di dekat kampus-kampus tersebut sudah ada gereja, sehingga tidak perlu dibangun gereja lagi.

“Tidak ada gereja, karena tidak jauh dari kampus sudah ada gereja,” kata Muhammad Sayuti seperti yang dilansir dari halaman Pandangan Jogja, Kamis (30/11).

Meski demikian, beberapa kampus Krismuha tersebut kerap mendatangkan pendeta atau dosen khusus untuk memberikan kuliah agama Kristen.

Selain soal gereja, warganet juga banyak yang bertanya, apakah dalam setiap kegiatan mahasiswa yang non-muslim juga tetap menyanyikan Mars Muhammadiyah, Sang Surya, yang di dalamnya memuat nilai-nilai islami.

Sayuti mengatakan, bahwa dalam kegiatan tertentu mahasiswa maupun karyawan memang tetap mesti menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah. Namun ia menegaskan jika Mars Muhammadiyah cukup dimaknai sebagai sebuah lagu saja sehingga tidak masalah dinyanyikan oleh semua mahasiswa, termasuk mereka yang beragama selain Islam.

“Kita anggap itu lagu saja, jadi tidak ada masalah mereka tetap menyanyikan (Mars Muhammadiyah),” ujarnya.

Sayuti juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat di daerah di mana kampus-kampus mereka berada. Sebab, meski kampus Muhammadiyah memiliki basis Islam, namun mereka yang beragama selain Islam, bahkan mayoritas di daerah tersebut mau menerima kehadiran kampus-kampus Muhammadiyah.

Tak cuma itu, mereka bahkan mempercayakan anak-anak mereka untuk menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah.

“Jujur saja ini sangat mengharukan bagi kami, mereka sangat terbuka menerima kehadiran kampus-kampus Muhammadiyah. Tujuan kami semata-mata untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa kita,” tegas Muhammad Sayuti. (INT/KUMPARAN)