SURAKARTA, Berita Merdeka Online – Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Studium General Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Ahad (1/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pascasarjana UMS lantai 5 ini mengusung tema besar tentang wawasan wasathiyah dan ijtihad maqasidi dalam Manhaj Tarjih sebagai upaya membangun Islam yang inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Seluruh mahasantri dan mahasantriwati Pondok Shabran UMS mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias.
Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., menyampaikan refleksi kritis mengenai kondisi umat Islam di tengah arus modernitas.
Dalam pemaparannya, Dr. Hamim menilai bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan semata persoalan akidah atau ritual keagamaan, melainkan persoalan sosial yang bersifat struktural.
Ia menyoroti masih kuatnya pola kehidupan pra-modern di kalangan umat Islam, meskipun hidup di era modern yang ditandai kemajuan teknologi dan industri.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan umat Islam sebagai umat yang kuat dan berdaya.
Namun, realitas yang terjadi justru menunjukkan lemahnya posisi umat dalam bidang ekonomi, teknologi, dan produksi.
Menurutnya, kesenjangan tersebut muncul karena umat belum sepenuhnya mampu bertransformasi menjadi masyarakat modern yang produktif dan mandiri.
Dr. Hamim menguraikan bahwa masyarakat modern dicirikan oleh penguasaan teknologi, industri, informasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan.
Sebaliknya, sebagian besar umat Islam masih bertumpu pada sektor agraris dan tenaga manual, sehingga tertinggal dalam rantai nilai ekonomi global.
Kondisi ini menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap produk industri dari pihak lain.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa modernitas tidak boleh dipahami sebagai ancaman terhadap nilai-nilai keislaman.
Justru, modernisasi harus berjalan seiring dengan penguatan iman dan akhlak.
Islam, menurutnya, memiliki fleksibilitas untuk menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan substansi ajarannya.
Dalam kerangka Muhammadiyah, gagasan tersebut dijalankan melalui Manhaj Tarjih, yaitu metodologi pemikiran keagamaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta dikembangkan melalui ijtihad yang sistematis.
Manhaj Tarjih menjadi instrumen penting dalam menghadirkan ajaran Islam yang kontekstual, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Dr. Hamim juga memaparkan berbagai dokumen ideologis Muhammadiyah, seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, hingga Risalah Islam Berkemajuan.
Seluruh dokumen tersebut, kata dia, menegaskan pentingnya penerapan syariah secara substantif, bukan semata formalitas.
Ia menekankan bahwa agama hadir untuk membawa kebaikan bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, Islam harus dipahami sebagai sarana membangun peradaban yang adil, sejahtera, dan bermartabat.
Sikap moderat, toleran, serta terbuka terhadap perbedaan menjadi bagian tak terpisahkan dari wawasan wasathiyah yang dikembangkan Muhammadiyah.
Dalam penutupnya, Dr. Hamim mengajak para mahasantri untuk menyiapkan diri sebagai generasi intelektual Muslim yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam menjawab tantangan zaman.
Ia berharap lulusan Pondok Shabran tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga memiliki daya saing dan kepedulian sosial.
Kegiatan Studium General ini berlangsung dinamis dengan sesi diskusi yang hidup.
Melalui forum tersebut, Pondok Shabran UMS berharap dapat memperkuat bekal intelektual dan keislaman mahasantri agar siap berkontribusi bagi umat dan bangsa di era modern. (MF)
Editor: Mualim
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan