Jawa Timur, Beritamerdekaonline.com – Kejadian heboh terjadi di Probolinggo, Jawa Timur, ketika sebuah agen travel nekat membawa rombongan puluhan Elf yang ditumpangi siswa-siswi SMK Tangerang Selatan (Tangsel) masuk ke lautan pasir Bromo. Peristiwa ini menyebabkan banyak kontroversi dan berujung pada permintaan maaf dari pihak agen travel.
Kepala Desa Ngadisari Sukapura, Sunaryono, menyampaikan penyesalannya atas insiden tersebut. Menurutnya, aksi tersebut sangat merugikan para pelaku wisata setempat, terutama pengusaha jip yang biasa mengangkut wisatawan ke kawasan tersebut.
“Jadi, mengenai izin dari pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), kami tidak tahu persis. Yang jelas, itu adalah ranah dari TNBTS. Kami sering menyampaikan bahwa untuk kenyamanan wisatawan, mari kita duduk bersama dan mematuhi aturan yang ada,” terang Sunaryono.
Setelah video kejadian tersebut viral di media sosial, agen travel yang bertanggung jawab dipanggil oleh Balai Besar TNBTS untuk memberikan klarifikasi pada Sabtu (25/5) sore. Dalam klarifikasi tersebut, Harun Wahyudi, perwakilan dari agen travel, menjelaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa itu.
“Karena jip yang dikonfirmasi tidak tersedia, kami menjadi kebingungan. Kami kasihan pada peserta tur dan tidak ingin mereka menunggu terlalu lama, jadi kami memutuskan untuk menggunakan Elf. Setelah itu, kami segera mengembalikan Elf tersebut,” kata Harun.
Harun kemudian meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan, terutama masyarakat yang berada di kawasan TNBTS. Dia menegaskan bahwa tidak ada niat atau unsur kesengajaan untuk membuat kegaduhan.
“Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak terkait. Saya tidak ada niat atau sengaja membuat kegaduhan, karena saat itu pikiran saya benar-benar buntu dan saya ingin menghindari komplain dari peserta tur,” ungkap Harun.
Peristiwa ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat dan pelaku wisata di kawasan Bromo. Banyak yang merasa bahwa tindakan agen travel tersebut tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga merugikan pelaku wisata lokal yang menggantungkan hidupnya dari bisnis jip wisata. Mereka menilai bahwa penggunaan Elf untuk mengangkut wisatawan ke lautan pasir Bromo adalah tindakan yang tidak tepat dan merusak tatanan yang telah ada.
Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, menggarisbawahi pentingnya koordinasi antara pihak travel, pengelola TNBTS, dan masyarakat setempat untuk memastikan kenyamanan dan keamanan wisatawan. Ia mengajak semua pihak untuk duduk bersama dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
“Kami berharap agar semua pihak dapat bekerja sama dan mematuhi aturan yang ada demi kenyamanan dan keamanan wisatawan. Peristiwa seperti ini seharusnya tidak terjadi jika semua pihak saling berkoordinasi dengan baik,” ujar Sunaryono.
Balai Besar TNBTS sebagai pihak yang berwenang dalam pengelolaan kawasan Bromo Tengger Semeru juga mengambil langkah tegas dengan memanggil agen travel yang bersangkutan untuk klarifikasi. Mereka memastikan bahwa aturan dan ketentuan yang berlaku harus dipatuhi oleh semua pihak demi menjaga kelestarian dan kenyamanan kawasan wisata tersebut.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi agen travel untuk selalu mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku di kawasan wisata. Mereka harus memastikan bahwa semua aspek perjalanan telah dipersiapkan dengan baik dan tidak mengambil jalan pintas yang dapat merugikan pihak lain.
Harun Wahyudi, mewakili agen travel, menegaskan komitmennya untuk lebih berhati-hati di masa mendatang dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.
“Kami akan lebih berhati-hati ke depannya dan memastikan semua perjalanan telah direncanakan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku. Kami berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik tanpa merugikan pihak lain,” kata Harun.
Insiden ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran semua pihak terkait pentingnya kepatuhan terhadap aturan di kawasan wisata. Pengelola TNBTS, agen travel, dan pelaku wisata lokal diharapkan dapat bekerja sama lebih baik untuk menciptakan pengalaman wisata yang aman dan nyaman bagi semua wisatawan.
Peristiwa ini juga menggarisbawahi pentingnya edukasi dan sosialisasi tentang aturan-aturan yang berlaku di kawasan wisata alam seperti Bromo. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan semua pihak dapat berkontribusi positif dalam menjaga kelestarian dan kenyamanan kawasan wisata tersebut. (CW01-G)




Tinggalkan Balasan