SURAKARTA | Berita Merdeka Online – Gemerlap budaya dan nuansa spiritual menyatu dalam peringatan Malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Surakarta.
Ribuan masyarakat memadati kawasan sekitar keraton untuk menyaksikan Kirab Pusaka Hajad Dalem Mapag 1 Sura yang kembali digelar sebagai bagian dari tradisi turun-temurun yang masih terjaga hingga saat ini.
Antusiasme warga terlihat sejak sore hari. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan secara langsung prosesi sakral yang menjadi simbol pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Kehadiran masyarakat yang begitu besar menjadikan kawasan pusat Kota Solo dipenuhi aktivitas budaya yang berlangsung hingga larut malam.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas daerah.
Menurutnya, budaya lokal merupakan warisan berharga yang harus terus dirawat agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Ia mengapresiasi konsistensi Pura Mangkunegaran dalam melestarikan berbagai tradisi yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan spiritual.
Upaya tersebut dinilai mampu memperkuat karakter budaya Jawa sekaligus menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Prosesi kirab diawali dengan pemberangkatan pusaka-pusaka milik Mangkunegaran yang sebelumnya telah menjalani ritual jamasan.
Dengan pengawalan para abdi dalem, pusaka tersebut diarak menyusuri sejumlah ruas jalan utama Kota Surakarta dalam suasana yang penuh penghormatan.
Keunikan kirab tampak dari pelaksanaan tapa bisu yang dijalani para peserta.
Mereka berjalan tanpa alas kaki dan tanpa berbicara sepanjang perjalanan.
Tradisi ini menjadi simbol pengendalian diri, perenungan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur.
Di sepanjang rute kirab, masyarakat tampak tertib mengikuti jalannya prosesi.
Banyak warga yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda agar tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tetap lestari.
Selain memiliki makna budaya yang mendalam, Kirab 1 Sura juga memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi.
Meningkatnya jumlah pengunjung turut menghidupkan aktivitas perdagangan, perhotelan, kuliner, hingga usaha kecil yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Usai kirab berlangsung, perhatian masyarakat beralih pada pembagian air jamasan pusaka.
Air yang digunakan dalam ritual pembersihan pusaka itu dipercaya membawa keberkahan sehingga banyak warga yang rela menunggu untuk mendapatkannya.
Peringatan Malam 1 Sura tahun ini juga diisi dengan berbagai kegiatan spiritual yang berlangsung selama 24 jam.
Seluruh rangkaian menjadi wujud komitmen Mangkunegaran dalam menjaga tradisi sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Melalui pelaksanaan kirab yang tetap mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, Mangkunegaran kembali membuktikan bahwa warisan budaya mampu bertahan dan terus relevan sebagai sumber inspirasi, kebersamaan, serta kebanggaan daerah. (liem)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan