BENGKULU, Berita Merdeka Online – Upaya melestarikan sejarah lokal dan mengangkat kembali peran tokoh perjuangan daerah terus mendapat perhatian. Ketua Zuriat Bangkahulu Tinggi sekaligus inisiator kegiatan, Acep Nana Harianto, menggelar Workshop Pangeran Mangkurajo: Pahlawan Bengkulu yang Terlupakan, Rabu (5/8/2026), sebagai langkah memperkuat dokumentasi sejarah sekaligus mendorong pengusulan Pangeran Mangkurajo sebagai pahlawan daerah.
Kegiatan yang difasilitasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu tersebut diikuti lebih dari 100 peserta yang terdiri atas akademisi, mahasiswa, sejarawan, budayawan, pemerhati sejarah, tokoh masyarakat, dan generasi muda.
Workshop ini menjadi ruang akademik untuk menghimpun berbagai kajian ilmiah mengenai perjalanan hidup, nilai perjuangan, serta kontribusi Pangeran Mangkurajo dalam sejarah Bengkulu. Hasil diskusi dan kajian yang dihimpun nantinya akan dijadikan bahan penyusunan buku sejarah sebagai referensi ilmiah sekaligus memperkuat upaya pelestarian sejarah daerah.
Kegiatan diawali dengan pembacaan curriculum vitae (CV) para narasumber oleh moderator, disertai pengantar mengenai pentingnya pelestarian sejarah lokal sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa dan pembangunan karakter generasi muda.

Empat narasumber dari kalangan akademisi, sejarawan, dan budayawan hadir memberikan pemaparan, yakni Dr. (Cand.) Eva Riana Rusdi, S.Pd., M.Hum, Harius Eko Saputra, S.Sos., M.Si., Taufik Kamidan, dan Ahmad Abas Musofa. Masing-masing menyampaikan hasil kajian mengenai kiprah Pangeran Mangkurajo serta urgensi menghadirkan kembali tokoh tersebut dalam historiografi Bengkulu.
Ketua Zuriat Bangkahulu Tinggi, Acep Nana Harianto, mengatakan workshop ini merupakan langkah awal dalam menggali lebih dalam sejarah perjuangan Pangeran Mangkurajo yang dinilai belum banyak dikenal masyarakat luas.
“Workshop ini menjadi ikhtiar bersama untuk menggali kembali sejarah perjuangan Pangeran Mangkurajo melalui kajian akademik. Kami berharap hasilnya dapat menjadi dasar penyusunan buku sejarah sekaligus memperkuat upaya pelestarian serta pengusulan beliau sebagai salah satu pahlawan daerah Bengkulu,” ujar Acep Nana Harianto.
Selain memperkuat kajian sejarah, Acep menyampaikan pihaknya juga akan mendorong pelestarian berbagai situs bersejarah yang berkaitan dengan Pangeran Mangkurajo, termasuk makam dan peninggalan lainnya agar tetap terawat sebagai bagian dari warisan budaya Bengkulu.
Menurutnya, pelestarian sejarah tidak hanya sebatas mendokumentasikan peristiwa masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas daerah.
Workshop tersebut mendapat apresiasi dari peserta karena menjadi forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, budayawan, dan masyarakat dalam membahas tokoh sejarah lokal yang selama ini belum banyak mendapat perhatian dalam literatur sejarah nasional.
Melalui kegiatan ini diharapkan lahir rekomendasi ilmiah yang dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, akademisi, maupun lembaga kebudayaan dalam mengembangkan penelitian sejarah Bengkulu.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga nilai-nilai perjuangan para pendahulu sebagai bagian dari jati diri masyarakat Bengkulu dan bangsa Indonesia.
Dengan terselenggaranya workshop tersebut, pelestarian sejarah lokal diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan seminar, tetapi berlanjut melalui penelitian, penerbitan buku, pelestarian situs budaya, hingga penguatan pendidikan sejarah di Bengkulu.***
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan