Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW

Oleh: Perry Amir, Datuk Tumbijo, M.Si.

Memahami Makna Adat dan Sandi dalam Kehidupan Minangkabau

Adat merupakan kebiasaan dan aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat tertentu, baik berupa perilaku, sikap, tindak-tanduk, maupun tata cara yang disepakati dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh individu dan masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, adat pada prinsipnya berlaku dalam wilayah nagari, sebagaimana dikenal melalui ungkapan “adat salingka nagari, pusako salingka kaum.” Adat Minangkabau mencakup sako jo pusako.

Sako merupakan gelar atau kedudukan adat yang diwariskan menurut ketentuan adat, seperti gelar datuk atau penghulu suku, datuk andiko, panungkek, katik, sidi, dan gelar adat lainnya dalam kaum yang bersangkutan.

Sementara itu, pusako merupakan harta warisan kaum yang penguasaan dan pemanfaatannya diatur berdasarkan ketentuan adat. Salah satunya adalah harta pusaka tinggi, seperti tanah ulayat kaum, yang tidak dapat dipindahtangankan secara pribadi tanpa mengikuti ketentuan adat yang berlaku.

Lantas, apa yang menjadi sandi atau landasan tegaknya adat Minangkabau?

Sandi berarti landasan, pijakan, tumpuan, atau fondasi yang menjadi dasar bagi tegaknya suatu tatanan kehidupan. Dalam falsafah Minangkabau, sandi adat adalah syarak, yaitu syariat Islam. Prinsip ini terangkum dalam ungkapan “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” (ABS-SBK).

Falsafah tersebut menegaskan bahwa adat Minangkabau berlandaskan syariat Islam, sedangkan Al-Qur’an menjadi pedoman utama dalam kehidupan umat Islam. Dengan demikian, nilai-nilai agama semestinya menjadi landasan dalam mengatur perilaku, hubungan sosial, serta pelaksanaan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Al-Qur’an sebagai Petunjuk Kehidupan
Kitabullah yang dimaksud dalam falsafah ABS-SBK adalah Al-Qur’an, kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah SWT dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang benar dan yang batil.

Al-Qur’an juga menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 bahwa kitab tersebut tidak mengandung keraguan dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, dihafal, atau dilantunkan dalam berbagai kegiatan keagamaan. Al-Qur’an harus dipelajari, direnungkan maknanya, dipahami kandungannya, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu ajaran mendasar dalam Al-Qur’an adalah mengenai tujuan penciptaan manusia. Dalam Surah Az-Zariyat ayat 56, Allah SWT berfirman bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Ayat ini mengingatkan bahwa orientasi kehidupan manusia seharusnya diarahkan pada pengabdian dan ketaatan kepada Allah SWT.

Pengabdian tersebut tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui perilaku yang baik, pelaksanaan amanah, kejujuran, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama.

Sunnah Rasulullah SAW sebagai Teladan Pengamalan Al-Qur’an

Untuk memberikan contoh nyata dalam mengamalkan ajaran Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW menjadi teladan bagi umat manusia. Beliau memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an diwujudkan dalam perkataan, perbuatan, sikap, dan akhlak sehari-hari.
Rasulullah SAW mengajarkan kejujuran, amanah, kesabaran, kerendahan hati, keadilan, dan kasih sayang.

Keteladanan beliau menjadi pedoman bagi umat Islam dalam membangun hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.

Karena itu, menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai landasan kehidupan berarti berupaya menerapkan ajarannya secara nyata.

Seorang Muslim hendaknya senantiasa bersyukur, memohon ampun kepada Allah SWT, memperbanyak zikir, menjaga lisan, menjauhi kesombongan, serta tidak melupakan tanggung jawabnya terhadap orang lain.

Keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dibuktikan melalui amal dan perilaku. Nilai-nilai tersebut semestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan adat Minangkabau.

Sudahkah Al-Qur’an dan Sunnah Menjadi Sandi Kehidupan Orang Minangkabau?

Jika Al-Qur’an benar-benar menjadi landasan falsafah hidup masyarakat Minangkabau, pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah: sudahkah Al-Qur’an dibaca secara rutin, dipelajari makna dan kandungannya, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?

Apakah Al-Qur’an telah menjadi pedoman dalam bersikap, bertutur kata, menjalankan amanah, bermuamalah, dan mengambil keputusan? Ataukah keberadaannya masih lebih banyak dipahami sebatas bacaan, hafalan, dan kegiatan seremonial keagamaan?

Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan sebagai ajakan untuk melakukan introspeksi bersama. Sebab, keberhasilan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup tidak cukup diukur dari seberapa sering kitab suci itu dibaca atau seberapa meriah kegiatan keagamaan diselenggarakan. Hal yang lebih mendasar adalah sejauh mana ajarannya membentuk akhlak dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Demikian pula, Sunnah Rasulullah SAW tidak cukup hanya disebut sebagai teladan. Ajaran dan keteladanan beliau perlu diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Jika terdapat kesenjangan antara nilai-nilai yang diyakini dan perilaku yang dijalankan, maka hal tersebut patut menjadi bahan evaluasi bersama.

Falsafah ABS-SBK semestinya tidak berhenti sebagai ungkapan kebanggaan, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan nyata.

Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW

Musibah sebagai Momentum Muhasabah

Berbagai musibah, baik dalam skala kecil maupun besar, termasuk yang terjadi di Ranah Minang, hendaknya menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

Dalam Surah Asy-Syura ayat 30, Allah SWT menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia berkaitan dengan perbuatan mereka, sementara Allah mengampuni banyak kesalahan.

Ayat tersebut mengingatkan manusia agar senantiasa mengevaluasi diri, memperbaiki perilaku, dan menyadari tanggung jawab atas perbuatannya.

Namun, musibah yang menimpa seseorang atau suatu kelompok tidak semestinya dijadikan dasar untuk memastikan bahwa mereka sedang menerima hukuman atas dosa tertentu.

Hikmah di balik setiap kejadian berada dalam pengetahuan Allah SWT.

Oleh karena itu, musibah hendaknya mendorong manusia untuk memperkuat keimanan sekaligus melakukan ikhtiar nyata dalam mencegah dan mengurangi risiko kejadian serupa.

Apabila persoalan berkaitan dengan kelalaian manusia, tanggung jawab dan perbaikan harus menjadi prioritas. Jika berkaitan dengan kerusakan lingkungan, diperlukan upaya nyata untuk menjaga alam. Doa, introspeksi, dan ikhtiar harus berjalan beriringan.

Bagi masyarakat Minangkabau, momentum ini dapat menjadi pengingat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai ABS-SBK dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui peningkatan kualitas ibadah maupun melalui perilaku yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, amanah, dan kepedulian sosial.

Mengharapkan Keberkahan Allah SWT

Sebagai hamba Allah SWT, manusia diperintahkan untuk bersyukur, berzikir, memohon ampun, menjaga lisan, menjauhi kesombongan, dan terus memperbaiki amal perbuatannya.
Ikhtiar untuk memperoleh keselamatan dunia dan akhirat harus disertai kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya.

Keshalehan pribadi juga perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial agar keimanan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 96, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.

Ayat ini menjadi pengingat tentang pentingnya iman dan takwa dalam membangun kehidupan yang baik dan penuh keberkahan. Masyarakat perlu terus berupaya menjaga amanah, berlaku adil, mempererat persaudaraan, dan memelihara lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kehidupan.

Keberkahan bukan berarti kehidupan akan terbebas dari segala ujian. Namun, iman dan takwa menjadi pedoman bagi manusia untuk menghadapi setiap ujian dengan kesabaran, ikhtiar, tanggung jawab, dan sikap saling menolong.

Kesimpulan

Berbagai persoalan dan musibah yang terjadi di Ranah Minang sepatutnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali merenungkan makna falsafah “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.”

Sudahkah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW benar-benar menjadi petunjuk, pedoman, dan landasan yang diamalkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan ini perlu dijawab melalui tindakan nyata. Masyarakat Minangkabau perlu memperkuat pemahaman terhadap Al-Qur’an, mengamalkan ajarannya, serta meneladani Sunnah Rasulullah SAW secara konsisten dan istiqamah.

Para pemangku adat, alim ulama, cadiak pandai, pemimpin pemerintahan, dan seluruh unsur masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar falsafah ABS-SBK tidak berhenti sebagai semboyan, tetapi benar-benar hidup dalam perilaku dan tata kehidupan masyarakat.

Kekuatan adat tidak hanya terletak pada keluhuran warisan budaya, tetapi juga pada kesungguhan masyarakat dalam menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman kehidupan.

Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat. Membaca dan memahami Al-Qur’an, mengamalkan ajarannya, meneladani Rasulullah SAW, menjaga persaudaraan, serta memperbaiki perilaku hendaknya menjadi ikhtiar bersama yang dijalankan secara konsisten dan istiqamah di jalan Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita semua untuk tetap berada di jalan-Nya. Lā haula wa lā quwwata illā billāh. Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Billāhi taufīq wal hidāyah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Padang Panjang, Senin, 26 Oktober 2026).

(Charles Nasution – Koordinator Liputan Berita Merdeka Online Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.