SEMARANG, Berita Merdeka Online -Tradisi Dugderan di Kota Semarang ditegaskan sebagai simbol identitas ibukota Jawa Tengah sebagai “rumah harmoni” yang mempersatukan keberagaman masyarakat.

Tradisi Dugderan merupakan penyambutan Ramadan, tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga ruang kebersamaan lintas suku, usia, dan komunitas.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia menyebut Dugderan merepresentasikan wajah Kota Semarang yang terbuka, toleran, dan hidup dalam keberagaman.

“Dugderan adalah identitas Kota Semarang sebagai rumah harmoni. Di sini berbagai latar belakang masyarakat menyatu dalam satu perayaan budaya,” ujar Agustina, Jumat (6/2).

Menurutnya, konsep Dugderan tahun ini dirancang lebih inklusif dengan melibatkan komunitas seni, pelajar, hingga kelompok masyarakat dari berbagai wilayah.

Atraksi Rampak Bedug dan drumband PIP Semarang menjadi simbol kolaborasi generasi tua dan muda dalam menjaga tradisi.

Selain sebagai ruang budaya, Dugderan juga menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui bazar UMKM, wahana rakyat, dan panggung hiburan di kawasan Alun-alun hingga Semarang Utara.

Agustina berharap semangat Dugderan memperkuat persaudaraan, menumbuhkan toleransi, serta menegaskan jati diri Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi kebersamaan.

“Melalui Dugderan, kita ingin menunjukkan bahwa Semarang adalah rumah bagi semua, tempat budaya dan keberagaman hidup berdampingan secara harmonis,” tegasnya.

Festival Dugderan 2026
Festival Pasar Rakyat Dugderan tahun 2026.(Dok. Humas Pemkot Semarang)

Dugderan 2026 Lebih Meriah

Perayaan Dugderan 2026 di Kota Semarang dipastikan berlangsung lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tradisi lama yang sempat ditiadakan kini kembali dihadirkan, terutama penempatan lokasi di kawasan sekitar Masjid Kauman.

Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Masjid Kauman, KH Khamad Maksum, mengatakan sejumlah persiapan telah dilakukan sejak beberapa hari terakhir, termasuk pemasangan permainan rakyat klasik seperti dermolen, tong setan, kincir angin, dan wahana tradisional lainnya.

“Dugderan tahun ini dipastikan lebih ramai karena tradisi-tradisi lama dikembalikan lagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembukaan Dugderan rencananya dilakukan oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng pada Sabtu (7/2).

Tahun ini, pusat kegiatan kembali digelar di sekitar Masjid Kauman, alun-alun, hingga area selatan Hotel Metro dan kawasan jembatan, sehingga cakupan area lebih luas dibanding tahun sebelumnya.

Selain wahana permainan, ratusan pelaku UMKM juga dipastikan meramaikan perayaan. “Ada 245 tenant akan berpartisipasi menjajakan produk dan kuliner tradisional,” imbuhnya.

Terkait adanya pemasangan tenant yang melubangi fasilitas umum, KH Khamad meminta masyarakat memaklumi karena kebutuhan ruang kegiatan.

“Nanti seluruh area yang terdampak akan diperbaiki dan dikembalikan seperti semula setelah rangkaian Dugderan selesai,” ujarnya.

Menurutnya, kembalinya tradisi lama diharapkan dapat menghidupkan kembali nuansa khas Dugderan sebagai agenda budaya masyarakat Semarang menjelang Ramadan.(day)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.