Kuala Beringin, Beritamerdekaonline.com – Jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan denyut nadi kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan kondisi jalan di Dusun V Pardomuan Nauli, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Kuala Beringin, Sumatra Utara, yang kini menyisakan pilu. Warga harus berjuang keras melintasi jalan utama yang sudah lama rusak parah.

Kerusakan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan sudah menyentuh sendi kehidupan warga. Jalan yang seharusnya menjadi penghubung menuju sekolah, pasar, hingga tempat kerja, kini berubah menjadi jalur penuh lumpur saat musim hujan dan dipenuhi debu tebal di musim kemarau. Bagi pengendara sepeda motor, risiko tergelincir menjadi ancaman sehari-hari.

Keluhan itu disuarakan oleh Jontara Siahaan, salah satu warga Dusun V. Ia menyebut, jalan rusak ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti.

“Kalau hujan, jalannya licin dan anak-anak sekolah sering jatuh. Kalau kemarau, debunya luar biasa sampai mengganggu pernapasan. Kami hanya ingin pemerintah memberi perhatian, karena jalan ini sudah jadi kebutuhan mendesak,” ujar Jontara, Sabtu (4/10/2025).

Keluhan Jontara juga mewakili keresahan banyak warga yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil perkebunan sawit dan karet. Transportasi hasil panen menjadi jauh lebih mahal karena truk sering terjebak di jalan rusak. Akibatnya, pendapatan petani menurun.

Jalan di Dusun V bukan sekadar akses warga, melainkan jalur vital untuk mengangkut hasil bumi. Menurut warga, biaya angkut sawit dan karet meningkat drastis karena kendaraan sering rusak. Kondisi ini menggerus keuntungan petani yang sebelumnya sudah tertekan oleh harga jual hasil perkebunan yang fluktuatif.

“Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal ekonomi. Kalau jalan terus dibiarkan rusak, bagaimana kami bisa bersaing? Hasil panen sulit keluar, sementara biaya transportasi melonjak,” tambah Jontara.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Kuala Beringin maupun Pemerintah Provinsi Sumatra Utara segera turun tangan. Mereka meminta ada survei lapangan dan tindak lanjut nyata berupa perbaikan jalan.

“Kami tidak menuntut muluk-muluk, hanya ingin jalan diperbaiki supaya aman dan lancar. Jalan ini adalah urat nadi ekonomi warga,” ujar Jontara penuh harap.

Hingga kini, pihak pemerintah daerah belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana perbaikan. Namun, warga berharap keluhan mereka tak lagi sekadar catatan, melainkan segera diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata.

Kasus ini menjadi potret nyata pentingnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur desa. Jalan yang layak bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga kunci untuk membuka akses pendidikan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi.

Jika dibiarkan, jalan rusak di Dusun V akan terus menjadi hambatan besar bagi masyarakat. Namun, jika diperbaiki, ia bisa menjadi pintu gerbang kemajuan yang membawa kesejahteraan.

(Laporan Zul)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.