Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Masyarakat Provinsi Bengkulu mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini berdampak pada aktivitas harian warga dan menambah beban biaya operasional para pelaku usaha.

Salah satu keluhan disampaikan oleh pelaku usaha di Kota Bengkulu, Undang Sumbaga, yang juga merupakan mantan Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bengkulu periode 2021–2024. Ia menyayangkan lambatnya distribusi BBM ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah tersebut.
“Kami sangat menyayangkan lambatnya distribusi BBM jenis Pertalite dan Pertamax. Hal ini berdampak langsung pada pembengkakan biaya operasional serta menambah beban waktu dalam menjalankan usaha,” ungkap Undang di kediamannya, Selasa (22/4/2025).
Menurutnya, apabila kondisi kelangkaan BBM ini terus dibiarkan, maka akan berimbas pada kenaikan harga komoditas kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, ia mendesak Pertamina agar segera menyelesaikan permasalahan distribusi BBM di Bengkulu.
“Pertamina harus cepat mengatasi masalah ini. Jika terus dibiarkan, efeknya akan terasa luas, termasuk pada stabilitas harga barang dan jasa di masyarakat,” lanjutnya.
Keluhan serupa juga datang dari warga Kelurahan Pagar Dewa, Kota Bengkulu, Yama (32), yang mengaku kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertamax.
“Sejak pagi kemarin saya mencari Pertamax di beberapa SPBU Kota Bengkulu, tapi semua kosong. Mau antre Pertalite, antreannya panjang sekali. Akhirnya saya terpaksa membeli BBM eceran, walaupun harganya lebih mahal,” ujar Yama.
Menanggapi hal ini, Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah Bengkulu, Wiwiet Wijaya, menyampaikan bahwa gangguan distribusi BBM terjadi akibat pendangkalan alur masuk kapal di Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu. Akibatnya, kapal pengangkut BBM tidak dapat bersandar dan melakukan bongkar muat sebagaimana mestinya.
“Kondisi pendangkalan di alur Pelabuhan Pulau Baai membuat kapal-kapal BBM tidak bisa masuk. Oleh karena itu, distribusi untuk SPBU di Bengkulu kami alihkan dari terminal BBM di Padang dan Lubuk Linggau,” jelas Wiwiet.
Ia menambahkan, pengalihan suplai tersebut menyebabkan jarak tempuh distribusi menjadi lebih jauh, sehingga waktu pengiriman ke SPBU pun menjadi lebih lama.
“Dampaknya tentu ada keterlambatan pengisian ke SPBU. Namun kami pastikan bahwa suplai tetap kami optimalkan dari berbagai wilayah agar ketersediaan di SPBU tetap terjaga,” katanya.
Wiwiet juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Pihak Pertamina, katanya, terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait agar penanganan pendangkalan alur segera ditangani secara serius.
“Kami mohon dukungan semua pihak, terutama untuk percepatan normalisasi alur masuk Pelabuhan Pulau Baai. Kami terus bekerja keras agar distribusi BBM bisa kembali normal dalam waktu dekat,” tutup Wiwiet.
Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah daerah dan pusat dapat segera turun tangan dalam mengatasi persoalan ini agar tidak terjadi kelangkaan berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi di Bengkulu.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan