Jakarta – Pemerintah tengah menyiapkan sebuah terobosan yang patut dicermati serius: program magang nasional bagi lulusan perguruan tinggi dengan batas kelulusan maksimal satu tahun. Program ini digadang menjadi salah satu prioritas nasional yang diharapkan mampu menjawab persoalan klasik: kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, skema ini dirancang agar para fresh graduate mendapat kesempatan membangun keterampilan praktis sekaligus pengalaman kerja. Dengan begitu, ijazah yang mereka genggam tidak berhenti sebagai simbol akademik semata, melainkan modal nyata menghadapi dunia profesional.
Program ini tidak berdiri sendiri. Rencana besar tersebut digodok bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan target implementasi serentak pada kuartal IV tahun 2025. Dunia usaha, baik swasta maupun BUMN, akan menjadi mitra utama dalam membuka pintu magang. Model kerja sama link and match antara perguruan tinggi dan perusahaan diyakini menjadi kunci keberhasilan.
Namun, gagasan ini tak lepas dari sorotan. Sebab, magang kerap kali dianggap sebagai “pekerjaan murah” yang hanya memberi keuntungan sepihak pada perusahaan. Untuk itu, pemerintah menegaskan adanya jaminan upah sesuai UMP di setiap daerah. Bahkan, enam bulan pertama upah tersebut akan ditanggung langsung oleh negara. Ini sebuah langkah maju yang patut diapresiasi.
Meski begitu, pertanyaan mendasar tetap ada: apakah program ini hanya menjadi solusi jangka pendek, atau benar-benar mampu membangun sistem ketenagakerjaan yang berdaya saing? Jangan sampai magang hanya dipandang sebagai formalitas untuk menekan angka pengangguran terdidik, sementara esensi pembelajaran praktisnya terabaikan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi teknologi, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tak hanya kaya teori, tetapi juga tangguh secara praktik. Program magang nasional bisa menjadi batu loncatan penting jika dijalankan dengan serius, transparan, dan diawasi ketat. Sebaliknya, tanpa pengawasan, ia bisa terjebak menjadi program seremonial yang kehilangan ruh.
Akhirnya, kita berharap magang nasional benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang adil, memberikan pengalaman nyata, dan memperkuat daya saing bangsa. Fresh graduate bukanlah sekadar statistik angka pengangguran, melainkan aset masa depan Indonesia. (Red)




Tinggalkan Balasan