Opini : Dewan Pendidikan; Mitra atau Bayangan?
Oleh : Nazwirman

Arosuka, Berita Merdeka Online – Kabupaten Solok kembali riuh. Bukan karena sengketa politik, bukan pula karena bencana. Kali ini, kabar baik datang dari dunia pendidikan. Dewan Pendidikan Kabupaten Solok masa bakti 2025–2030 baru saja dikukuhkan oleh Bupati Jon Firman Pandu. Acara pelantikannya berlangsung semarak. Dihadiri para pejabat penting, dari kepala dinas hingga kepala sekolah. Bahkan, penyelenggara pendidikan masyarakat pun turut hadir.

Suasananya meriah, seolah ingin menyampaikan satu pesan, Dewan Pendidikan telah hidup kembali.
Tentu saja ini menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Kabupaten Solok. Di tengah kompleksitas tantangan yang semakin pelik, dari kekurangan guru, mutu guru, sarana prasarana, hingga kesenjangan akses pendidikan sampai peringkat Kabupaten Solok yang nyaris berada paling bawah di Sumatera Barat. Kehadiran Dewan Pendidikan diharapkan menjadi suluh. Bagaikan seteguk air di tengah Padang pasir yang panas.

Tapi harapan itu tidak datang tanpa catatan. Anggota Dewan Pendidikan yang baru ini sebagian besar adalah mantan pejabat di Dinas Pendidikan. Di atas kertas, ini adalah kekuatan. Mereka tahu sistemnya. Mereka paham peta persoalan. Tapi di sisi lain, di sinilah jebakan itu tersembunyi.

Harus dipahami, Dewan Pendidikan Bukanlah Dinas jilid dua. Ia bukan lembaga operasional. Ia juga bukan pemegang kendali teknis. Ia adalah mitra kritis. Pemberi pertimbangan. Pengawas moral. Penjaga arah. Maka, Dewan Pendidikan harus melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan baik, tanpa melangkahi batas.
Justru karena mereka para mantan, maka kehati-hatian harus berlipat. Jangan sampai ada intervensi terhadap dinas. Jangan pula mengatur-atur sekolah. Jangan sampai ego masa lalu menabrak tanggung jawab masa kini.
Kritik itu bukan serangan. Tapi cermin. Dan cermin terbaik adalah elegan, bukan arogan.

Dewan Pendidikan harus mengedepankan pendekatan santun namun tajam. Memberi masukan dengan data. Menyuarakan aspirasi tanpa menggertak. Jangan menjadi bayang-bayang dari dinas yang yang telah membesarkan nama mereka dan bahkan pernah mereka pimpin.
Karena jika tidak, Dewan Pendidikan yang seharusnya menjadi cahaya, justru akan menjadi bayangan. Dan kita tahu, bayangan tidak pernah bisa menerangi jalan.

Kabupaten Solok tidak butuh Dewan Pendidikan yang sekadar ramai saat dilantik, tapi hilang saat dibutuhkan. Kabupaten Solok butuh dewan yang hadir sebagai pengawal mutu, bukan pelayan kepentingan. Yang elegan dalam sikap, tajam dalam pemikiran, dan jujur dalam niat.

Kalau Dewan Pendidikan bisa menjaga itu, maka masa depan pendidikan Solok tak hanya hidup kembali, tapi akan tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Semoga. (Ikhlas)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.