SEMARANG, Berita Merdeka Online – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mencanangkan Kota Semarang sebagai rumah anak dalam momentum Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 yang digelar di Halaman Balaikota Semarang pada Kamis (21/8).
Agustina menegaskan, Pemkot Semarang berkomitmen menghadirkan ruang ekspresi, kreativitas, dan prestasi bagi anak-anak. Ia menilai anak-anak tidak cukup hanya diberi pendidikan formal, tetapi juga perlu wadah untuk mengasah bakat dan minat.
“Konon, ketika ada ruang bermain yang banyak, kecerdasan anak akan lebih berkembang dibandingkan hanya belajar di dalam kelas. Karena itu, kita akan ciptakan pameran dan ruang agar mereka bisa mengasah kepandaian,” ujarnya, seusai kegiatan.
Agustina juga menyebutkan, Pemkot akan menggandeng seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk membangun sistem yang ramah anak. Dinas Pendidikan, misalnya, diarahkan membuat sistem pendidikan lokal yang lebih partisipatif.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) didorong menciptakan lingkungan bersih, sementara Trans Semarang diminta menjamin transportasi publik aman dari pelecehan.
“Berbagai dinas punya peran agar Semarang jadi nyaman. Visi saya adalah menciptakan support system sehingga di lahan Pemkot sekecil apa pun, anak-anak bisa merasa aman dan mengekspresikan diri tanpa gangguan,” tegasnya.

Menurut Agustina, peringatan HAN menjadi refleksi bagi orang tua dan pemerintah. Ia menyoroti masih adanya anak-anak yang belum terfasilitasi dengan baik dalam mengejar cita-cita.
“Tugas kita adalah memberi ruang agar mereka siap menghadapi tantangan saat dewasa. Masalah sekarang, orang tua sering mereplikasi masa lalunya, seolah tahu masa depan anak. Karena itu, Pemkot akan mengalokasikan program untuk anak tahun depan,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, mengapresiasi langkah Pemkot Semarang menggelar festival anak dalam peringatan HAN.
Ia berharap ke depan semakin banyak event yang memberi ruang bagi anak sebagai pelopor sekaligus pelapor ketika menghadapi persoalan.
“Catatannya, harus ada sinergi pemerintah dalam menyediakan fasilitas. Namun lingkup terkecil tetap keluarga. Jangan sampai anak justru curhat ke orang lain, karena orang tua seharusnya punya waktu untuk mendengarkan anaknya,” tandas Veronica.(day)




Tinggalkan Balasan