SEMARANG, Berita Merdeka Online – Universitas Wahid Hasyim Semarang menggelar kuliah umum bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Republik Indonesia, Nusron Wahid, pada Sabtu (2/5/2026).

Kegiatan akademik ini berlangsung di Ruang Theater Lantai 3 Fakultas Kedokteran dan mengangkat isu strategis mengenai optimalisasi pemanfaatan tanah terlantar dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai program studi serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, mulai dari Ketua Umum Yayasan Wahid Hasyim Semarang, rektor, wakil rektor, dekan, hingga para ketua program studi.

Suasana kegiatan berjalan aktif dengan partisipasi mahasiswa yang cukup tinggi dalam mengikuti materi dan sesi diskusi.

Pihak kampus menilai kuliah umum ini menjadi sarana penting untuk menghadirkan perspektif langsung dari pemerintah terkait kebijakan agraria dan tata ruang.

Forum ini juga membuka ruang dialog antara akademisi dan pemangku kebijakan, sehingga mahasiswa dapat memahami isu pembangunan dari sudut pandang praktis sekaligus akademis.

Dalam sambutan pembuka, pihak rektorat menegaskan bahwa persoalan agraria saat ini berkembang menjadi isu multidimensi.

Tidak hanya menyangkut administrasi pertanahan, tetapi juga berkaitan dengan keadilan sosial, pengelolaan lingkungan, serta keberlanjutan pembangunan nasional yang menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Dalam pemaparannya, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menyoroti pentingnya tanah sebagai sumber daya utama dalam mendukung kehidupan dan ketahanan pangan Indonesia.

Ia menekankan bahwa pengelolaan lahan harus berjalan secara adil, terencana, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.

Ia juga menyoroti masih adanya tanah-tanah terlantar yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurutnya, lahan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan kembali agar memberikan manfaat ekonomi, sosial, serta mendukung peningkatan produksi pangan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

“Pemanfaatan tanah harus diarahkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam pemaparan tersebut.

Selain membahas kebijakan pertanahan, Nusron Wahid juga mengajak mahasiswa untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjawab berbagai tantangan sosial melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

Mahasiswa diharapkan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga mampu hadir di tengah masyarakat untuk memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan di berbagai sektor.

Kegiatan kuliah umum ini berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dinamis.

Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan seputar kebijakan pertanahan, tata ruang, hingga strategi ketahanan pangan yang dijawab langsung oleh narasumber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Wahid Hasyim berharap terjalin sinergi yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan pemerintah.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan inovatif dalam pengelolaan sumber daya agraria yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat luas. (liem)