Padang Panjang (Sumbar), Berita Merdeka Online — Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan menggelar kegiatan pelepasan 5.000 ekor bibit ikan lele di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Padang Panjang, Senin (4/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kolam budidaya lele milik rutan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat, Kunrat Kasmiri, Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis, Wakil Ketua DPRD Mardiansyah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, serta unsur terkait lainnya.
Rangkaian acara diawali dengan peninjauan kolam budidaya, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelepasan bibit ikan lele ke dalam tujuh kolam oleh Kakanwil Ditjenpas Sumatera Barat bersama Wali Kota dan Wakil Ketua DPRD. Kegiatan tersebut turut disaksikan langsung oleh Kepala Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Novri Abbas, beserta jajaran, Kepala OPD, Camat, Lurah, dan awak media.

Usai kegiatan pelepasan, rombongan melanjutkan agenda dengan bertatap muka bersama 137 warga binaan di aula rutan. Pada kesempatan itu, Wali Kota Hendri Arnis juga menyerahkan bantuan sebanyak 150 bungkus nasi kepada warga binaan.
Dalam arahannya, Hendri Arnis menekankan pentingnya perubahan diri bagi warga binaan sebagai bekal kembali ke masyarakat.
“Ini adalah titik nol. Setelah keluar dari rutan, warga binaan harus memiliki keterampilan dan mampu mengubah diri. Ini bukan akhir, melainkan awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh warga binaan untuk meninggalkan masa lalu dan membuka lembaran baru dengan penuh harapan serta semangat memperbaiki diri.
Sementara itu, Kakanwil Ditjenpas Sumatera Barat, Kunrat Kasmiri, menegaskan bahwa berbagai program pembinaan yang dilaksanakan, termasuk kerja sama dengan Pemerintah Kota Padang Panjang, bertujuan untuk meningkatkan kualitas warga binaan.
Menurutnya, program yang dijalankan meliputi pembinaan kepribadian dan keterampilan, seperti kegiatan Pramuka, PKBM, hingga rencana pengembangan program pesantren di lingkungan rutan, dan program lainnya yang bermanfaat untuk warga binaan.
“Masuk menjadi narapidana, keluar menjadi santri. Itu harapan kami, warga binaan setelah bebas mampu berperan aktif di masyarakat, seperti menjadi khatib, mengumandangkan azan, hingga terlibat dalam kegiatan positif lainnya,” ungkap Kunrat.
Ia menambahkan, pembinaan tersebut diharapkan mampu menciptakan perubahan nyata sehingga warga binaan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan mandiri.
(Charles Nasution)




Tinggalkan Balasan