Mukomuko, Beritamerdekaonline.com – Reses Masa Sidang Ke-III Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Bengkulu, Andy Suhary, S.E., M.Pd., di Desa Pasar Sebelat menghadirkan potret lain kehidupan masyarakat pedesaan yang kerap luput dari perhatian: ketimpangan pembangunan yang terus dirasakan dari tahun ke tahun. Melalui forum ini, warga tidak sekadar menyampaikan keluhan, tetapi menggambarkan realitas sehari-hari yang memperlihatkan betapa krusialnya kehadiran negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar.

‎Suara Desa Menggema di Reses Andy Suhary: Ketimpangan Infrastruktur dan Ekonomi Jadi Sorotan Utama.


‎Dalam suasana yang cair namun sarat keprihatinan, Andy menjadi saksi langsung bagaimana masyarakat desa masih berjuang dengan persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Warga menuturkan bahwa jalan kabupaten yang menjadi urat nadi mobilitas ekonomi kini justru berubah menjadi sumber kecemasan. Lubang menganga dan kondisi jalan yang licin saat hujan membuat aktivitas harian warga terganggu.

‎“Kalau ada yang sakit malam, kami benar-benar was-was,” ujar seorang warga yang menyuarakan keresahan kolektif.

‎Kondisi lebih memprihatinkan juga terjadi pada jalan usaha tani. Infrastruktur yang seharusnya mendukung produktivitas pertanian justru membuat petani merugi karena hasil kebun sulit diangkut. Jalan tanah yang rusak parah membuat biaya operasional melambung. Bagi masyarakat Pasar Sebelat, perbaikan jalan tani bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi urat nadi ekonomi desa.

‎Permasalahan pupuk turut memperlihatkan tekanan ekonomi yang makin berat. Ketersediaan yang menipis, harga yang meroket, hingga persyaratan replanting kelapa sawit yang dirasa terlalu memberatkan, menunjukkan betapa petani kecil membutuhkan kebijakan yang lebih adaptif. Mereka berharap dukungan bibit sawit maupun bibit buah dapat menjadi langkah awal pemulihan ekonomi keluarga.

‎Isu lain yang menjadi sorotan adalah minimnya penerangan listrik. Warga mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan, namun belum mendapatkan kepastian. Bagi mereka, penerangan bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi aspek keamanan yang mendesak.

‎Pelaku UMKM desa pun tak ketinggalan menyampaikan kegelisahan. Kebutuhan modal usaha menjadi hambatan terbesar bagi mereka untuk bertahan dan berkembang.

‎Menanggapi sederet persoalan tersebut, Andy Suhary menegaskan bahwa dirinya datang membawa komitmen, bukan sekadar kunjungan formalitas.

‎“Setiap keluhan akan saya bawa dan perjuangkan,” ujarnya.

‎Reses kali ini menghadirkan pesan kuat bahwa persoalan pedesaan bukan hanya soal kurangnya pembangunan, tetapi tentang bagaimana kehadiran pemerintah dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.