Bengkulu Utara, Beritamerdekaonline.com – Kabupaten Bengkulu Utara tidak hanya dikenal memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga kaya dengan keragaman budaya dan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama. Salah satu contoh nyata kerukunan tersebut terlihat di Desa Rama Agung, Kecamatan Arga Makmur, yang dikenal sebagai kampung moderasi.

Di desa tersebut, ribuan warga dari berbagai latar belakang agama hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati. Keberagaman ini menjadi simbol kuat persatuan masyarakat yang tetap menjaga keharmonisan di tengah perbedaan keyakinan.

Sepanjang jalan lintas Desa Rama Agung, berbagai rumah ibadah berdiri berdampingan. Mulai dari masjid, gereja, hingga vihara yang menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat setempat. Keberadaan tempat ibadah yang beragam tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan.

Ketua DPRD Bengkulu Utara Parmin mengapresiasi kerukunan masyarakat Desa Rama Agung dalam menjaga toleransi antarumat beragama.

Perbedaan agama dan budaya tidak menjadi penghalang bagi warga untuk hidup rukun. Justru keragaman tersebut menjadi kekuatan sosial yang memperkaya kehidupan masyarakat Desa Rama Agung.

Momentum kebersamaan itu semakin terlihat pada perayaan keagamaan yang berlangsung hampir bersamaan. Pada bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah yang dijalankan oleh umat Islam, masyarakat Hindu di desa tersebut juga mempersiapkan perayaan Ogoh-Ogoh yang merupakan bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi.

Meski berlangsung di waktu yang hampir bersamaan, kedua kegiatan keagamaan tersebut tetap berjalan dengan penuh rasa saling menghormati. Warga Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan tetap memberikan ruang bagi umat Hindu untuk melaksanakan tradisi budaya Ogoh-Ogoh.

Sebaliknya, masyarakat Hindu juga menunjukkan sikap toleransi dengan menjaga ketertiban dan menghormati suasana ibadah umat Islam selama bulan suci Ramadhan.

Tradisi Ogoh-Ogoh sendiri merupakan bagian dari ritual keagamaan umat Hindu yang biasanya dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dalam tradisi tersebut, masyarakat membuat patung besar berbentuk makhluk mitologi yang kemudian diarak keliling desa sebagai simbol pembersihan diri dari energi negatif.

Di Desa Rama Agung, kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang selalu menarik perhatian masyarakat sekitar karena sarat dengan nilai seni dan tradisi.

Ketua DPRD Kabupaten Bengkulu Utara, Parmin, S.IP, menyampaikan apresiasi terhadap kehidupan masyarakat Desa Rama Agung yang mampu menjaga keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama.

Menurut Parmin, kehidupan masyarakat di desa tersebut menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun persatuan.

Ia menilai kegiatan budaya dan keagamaan seperti Ogoh-Ogoh memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat.

“Kerukunan antar umat beragama di kampung moderasi Desa Rama Agung patut diapresiasi. Ini menjadi contoh bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan saling menghormati,” ujar Parmin.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa DPRD Bengkulu Utara mendukung setiap kegiatan budaya yang dapat menjadi simbol identitas daerah sekaligus memperkuat nilai kebersamaan masyarakat.

Menurutnya, kegiatan budaya tidak hanya berfungsi sebagai tradisi semata, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Parmin juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang akan merayakan Hari Raya Nyepi tahun 2026. Ia berharap perayaan tersebut dapat berjalan dengan lancar serta membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat.

“Semoga keragaman yang ada di tengah masyarakat menjadi kekuatan spiritual yang dapat mendewasakan pola pikir serta memperkuat nilai persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Rama Agung, Putu Gede, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa masyarakat saat ini tengah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut perayaan Ogoh-Ogoh dan Hari Raya Nyepi.

Menurutnya, proses pembuatan patung Ogoh-Ogoh dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Hindu di desa tersebut.

“Saat ini masyarakat masih fokus menyelesaikan persiapan Ogoh-Ogoh yang menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan Nyepi,” jelas Putu.

Ia menjelaskan bahwa arak-arakan Ogoh-Ogoh direncanakan akan dilaksanakan pada 18 Maret 2026. Kegiatan tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Bupati Bengkulu Utara, jajaran pemerintah daerah, anggota DPRD, serta masyarakat umum.

Putu juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai pihak terhadap kegiatan budaya yang dilaksanakan di Desa Rama Agung.

“Terima kasih atas dukungan dan motivasi dari semua pihak. Semoga kebersamaan ini terus terjaga sehingga kita dapat bersama-sama membangun daerah yang lebih maju,” ujarnya.

Kehidupan masyarakat Desa Rama Agung menjadi gambaran nyata bagaimana keberagaman budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Nilai toleransi yang terjaga dengan baik di desa tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam memperkuat persatuan di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. (Adv)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.