Tanah Datar, BeritaMerdekaOnline.Com — Rencana pembangunan trase Tol Sicincin-Bukittinggi kembali menuai penolakan dari masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Puluhan pemuda dan warga Jorong Pasa Rabaa, Nagari Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menyatakan keberatan jika trase jalan tol melintasi kampung mereka.
Penolakan itu disampaikan melalui aksi yang digelar di depan Kantor Wali Nagari Panyalaian pada Selasa (15/9/2026) sore.
Dalam aksi tersebut, warga memasang spanduk besar di depan kantor Wali Nagari Panyalaian yang berisi pernyataan penolakan terhadap rencana trase tol yang melintasi Jorong Pasa Rabaa.
“Kami masyarakat dan pemuda Jorong Pasa Rabaa Nagari Panyalaian Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar yang terdampak trase tol Sicincin-Bukittinggi menyatakan menolak trase tol melewati kampung kami,” demikian bunyi tulisan pada spanduk yang dipasang warga.
Seorang pemuda Panyalaian, Doni, mengatakan aksi tersebut merupakan inisiatif pemuda yang mendapat dukungan dari bundo kanduang dan masyarakat yang diperkirakan terdampak pembangunan.
Doni menegaskan, penolakan tersebut bukan berarti masyarakat anti terhadap pembangunan pemerintah.
“Kami tidak menolak program pemerintah dalam hal pembangunan. Akan tetapi, dengan adanya trase tol yang melewati kampung kami, dikhawatirkan akan menimbulkan kerugian adat,” ujar Doni saat ditemui di lokasi aksi.

Menurut dia, masyarakat memiliki kekhawatiran terhadap keberadaan sejumlah kawasan dan bangunan yang memiliki nilai adat serta sosial. Di antaranya pandam perkuburan, rumah gadang, dan tempat ibadah yang disebut berpotensi terdampak apabila trase tersebut dibangun sesuai rencana.
Selain persoalan adat, warga juga menyoroti dampak pembangunan terhadap sektor pertanian yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Ardi dan David, dua pemuda Panyalaian lainnya, mengatakan trase tol yang melintasi Jorong Pasa Rabaa dikhawatirkan menyebabkan sebagian lahan pertanian masyarakat terdampak.
“Kami khawatir akan tergusurnya lahan pertanian masyarakat karena lahan di sini produktif. Dari segi ekonomi masyarakat, tentu ini akan terganggu nantinya,” kata mereka.
Mereka juga mempertanyakan dampak sosial pembangunan apabila trase jalan tol melewati kawasan permukiman yang cukup padat di Nagari Panyalaian.
Bagi warga, persoalan trase tidak semata menyangkut keberadaan jalan tol, tetapi juga menyangkut keberlangsungan permukiman, lahan produktif, serta kawasan yang memiliki nilai adat dan sosial.
Karena itu, mereka berharap pemerintah mempertimbangkan kembali rencana trase tersebut dan membuka ruang dialog dengan masyarakat terdampak sebelum keputusan pembangunan ditetapkan.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan dari pemerintah terkait mengenai sikap atas aksi penolakan warga Jorong Pasa Rabaa tersebut.
(Laporan: Charles Nasution)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



Tinggalkan Balasan