Bengkulu, Beritamerdekaonline.com — Balai Bahasa Provinsi Bengkulu kembali menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat provinsi tahun 2024. Ini merupakan penyelenggaraan kedua sejak pertama kali diadakan pada tahun 2023, dalam rangka mendukung revitalisasi bahasa daerah di Provinsi Bengkulu. Festival ini disambut antusias oleh ratusan pelajar dari tingkat Kabupaten dan Kota di seluruh provinsi.

Balai Bahasa Provinsi Bengkulu kembali menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat provinsi tahun 2024.


‎Festival tahunan ini mengusung berbagai kategori lomba untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Untuk tingkat SD, kategori lomba yang diadakan mencakup bercerita, mendongeng, pidato, dan menulis serta membaca aksara ulu. Sementara itu, untuk tingkat SMP, lomba mencakup menulis cerpen, menulis aksara ulu, kembang tradisi, serta stand up komedi.

‎Kepala Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu, Dwi Laily Sukmawati, menyampaikan bahwa FTBI melibatkan serangkaian proses yang panjang. Persiapan kegiatan ini meliputi koordinasi dengan berbagai pihak, penyusunan modul pembelajaran, pelatihan guru utama, monitoring, dan pengimbasan atau penerapan kegiatan Festival dari tingkat daerah hingga nasional.

‎“Poin penting dari kegiatan ini sebenarnya terletak pada pengimbasan, khususnya bagi para guru master kepada siswa-siswanya di sekolah yang diseleksi untuk mewakili tingkat Kabupaten, Provinsi, dan Nasional,” ujar Dwi Laily di Aula Asrama Haji, Kota Bengkulu, Rabu (13/11/2024).

‎Menurutnya, antusiasme peserta dan peningkatan jumlah bahasa yang dilombakan menunjukkan bahwa FTBI mendapatkan sambutan positif. Selain itu, dukungan penuh dari Pemerintah Daerah, terutama Dinas Pendidikan, turut berkontribusi dalam memperluas cakupan kegiatan ini di berbagai daerah di Bengkulu.

‎“Para guru master juga menunjukkan dukungan besar bagi siswanya di sekolah. Hal ini selalu terlihat setiap kali kami melakukan monitoring di berbagai daerah melalui pengimbasan yang difasilitasi Dikbud melalui KKG dan MGMP. Dengan demikian, bahasa daerah semakin meluas di masyarakat,” jelas Dwi Laily.

‎Namun, pelaksanaan FTBI juga dihadapkan pada tantangan, terutama terkait kurikulum. Dwi Laily mengakui bahwa belum ada kurikulum yang secara khusus mendukung pengajaran bahasa daerah, khususnya aksara ulu, di sekolah-sekolah. Meskipun begitu, beberapa daerah seperti Kepahiang, Rejang Lebong, Lebong, dan Bengkulu Utara telah mulai mengajarkan aksara ulu di sekolah-sekolah sebagai langkah awal dalam memperkenalkan bahasa daerah secara lebih mendalam.

‎Pembelajaran bahasa daerah yang dimulai dari aksara ulu di tingkat sekolah ini, menurutnya, mampu menggugah kesadaran masyarakat, tenaga pendidik, serta pemerintah daerah untuk bersama-sama melestarikan bahasa daerah.

‎“Kami berharap, upaya ini dapat meningkatkan kepedulian semua pihak terhadap pentingnya menjaga bahasa daerah,” tuturnya.

‎Asisten I Setdaprov Bengkulu, Khairil Anwar, yang mewakili Gubernur Bengkulu, juga memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan FTBI. Menurutnya, konsistensi kegiatan ini menunjukkan keseriusan Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu dalam melestarikan bahasa daerah.

‎”Pemerintah Provinsi pun mendukung penuh kegiatan ini dan telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) mengenai pelestarian bahasa daerah,” ungkap Khairil.

‎Ia berharap FTBI dapat terus diselenggarakan secara rutin agar tidak ada lagi bahasa daerah di Bengkulu yang punah.

‎”Kemajuan teknologi dan informasi tidak boleh menghilangkan bahasa daerah. Kami ingin agar bahasa yang dikategorikan hampir punah, seperti bahasa Enggano, dapat lestari berkat kegiatan seperti ini,” jelas Khairil.

‎Festival Tunas Bahasa Ibu diharapkan menjadi motor penggerak bagi kelangsungan bahasa daerah di Provinsi Bengkulu. Selain melibatkan generasi muda, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya melalui bahasa daerah.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.