Sigli, Berita Merdeka Online – Kepemimpinan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Sigli mendapat sorotan dari pihak keluarga warga binaan. Seorang perwakilan keluarga, Abdullah, menyampaikan kekecewaan terhadap pola pengelolaan dan sistem pembinaan yang dinilai belum berjalan optimal.
Pernyataan tersebut disampaikan di Sigli, Rabu (4/3/2026). Abdullah menilai, program pembinaan kemandirian yang seharusnya menjadi bekal warga binaan setelah bebas belum sepenuhnya terealisasi sesuai harapan.
“Kami berharap pembinaan tidak hanya bersifat pekerjaan fisik rutin, tetapi juga memberi keterampilan yang bisa digunakan setelah masa pidana selesai,” ujarnya.

Menurut Abdullah, kegiatan yang diterapkan saat ini dinilai lebih banyak berupa pekerjaan fisik seperti membersihkan lingkungan lapas dan perawatan area sekitar. Ia berharap ada pelatihan keterampilan produktif seperti kerajinan, tata boga, menjahit, atau pelatihan usaha kecil yang dapat meningkatkan kemandirian warga binaan.
Secara prinsip, sistem pemasyarakatan di Indonesia berada di bawah pembinaan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham) yang menekankan fungsi pembinaan dan reintegrasi sosial.
Keluarga warga binaan meminta agar pihak lapas melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan agar selaras dengan tujuan pemasyarakatan.
Abdullah juga berharap adanya komunikasi yang lebih terbuka antara pihak lapas dan keluarga warga binaan terkait program pembinaan yang dijalankan. Menurutnya, transparansi akan membantu membangun kepercayaan publik terhadap institusi pemasyarakatan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen LPW Kelas IIB Sigli Belum Bisa di Hubungi Wartawan Media ini. (J3F)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan