SOLOK, Beritamerdekaonline  — Peluang investasi hijau dari Republik Korea di Kabupaten Solok mulai ditindaklanjuti secara lebih konkret. Wakil Bupati Solok H. Candra, S.H.I. mengajak delegasi Korea meninjau langsung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Solok di Ampang Kualo, Rabu (12/8/2026).

Peninjauan lapangan ini menjadi bagian dari penjajakan kerja sama investasi berbasis lingkungan setelah sebelumnya digelar audiensi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama delegasi Republik Korea dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
H. Candra mengatakan, kunjungan tersebut penting untuk melihat secara langsung kondisi eksisting TPA, sekaligus mengidentifikasi potensi pengembangannya dengan dukungan teknologi modern.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai persoalan lingkungan. Jika dikelola dengan teknologi dan sistem yang tepat, sampah dapat menjadi bagian dari ekonomi hijau dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Investasi hijau bukan hanya berbicara tentang investasi, tetapi juga bagaimana kita menjaga lingkungan, meningkatkan kualitas pengelolaan sampah, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujar H. Candra.

Dalam peninjauan tersebut, Wabup bersama delegasi Korea melihat sejumlah titik yang dinilai berpotensi dikembangkan melalui konsep pengelolaan sampah modern. Pembahasan mencakup kemungkinan pemanfaatan gas metana, pengurangan emisi, teknologi pengolahan sampah hingga pengembangan ekonomi sirkular.

H. Candra menegaskan, Pemkab Solok terbuka terhadap investasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Namun, setiap peluang kerja sama harus dikaji secara menyeluruh, baik dari aspek teknis, ekonomi, lingkungan maupun manfaat jangka panjang bagi daerah.

“Kita ingin belajar dari pengalaman negara yang lebih maju dalam pengelolaan lingkungan. Yang kita harapkan bukan hanya modal, tetapi juga teknologi, pengetahuan, dan sistem pengelolaan yang dapat disesuaikan dengan kondisi Kabupaten Solok,” katanya.

Selain pengelolaan sampah, penjajakan kerja sama juga mencakup peluang energi terbarukan, pemanfaatan gas metana, pengurangan emisi gas rumah kaca serta pengembangan kredit dan pasar karbon.

Meski demikian, H. Candra menegaskan proses tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan identifikasi potensi. Belum ada kepastian mengenai realisasi investasi.

Pemkab Solok selanjutnya akan berkoordinasi dengan Pemprov Sumatera Barat, kementerian terkait dan pihak Korea untuk melakukan pemetaan potensi serta kajian kelayakan.

Ia berharap kerja sama tersebut nantinya tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kualitas lingkungan, penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi baru.
Dengan langkah ini, Pemkab Solok ingin mengubah paradigma sampah dari persoalan menjadi peluang investasi, energi dan sumber pertumbuhan ekonomi baru. (Nz. Koto)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.