AMBARAWA SEMARANG (18/04/2022)
Bagi generasi penikmat, generasi yang tinggal menikmati hasil perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, memperingati-mensyukuri hari Sumpah Pemuda itu harus. Peristiwa Sumpah Pemuda termasuk lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah nikmat besar bagi bangsa Indonesia.
Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya itu laksana tirta amerta, air suci yang dapat menyembuhkan ibu pertiwi yang saat ini sedang mengalami sakit komplikasi. Juga dapat seperti cahaya yang bisa menyingkap kegelapan yang menyelimuti ibu pertiwi akibat ulah putra-putrinya yang nakal dan masuknya nilai atau pengaruh negatif dari luar negeri.
Ia juga bisa menjadi jangkar yang menguatkan pendirian bangsa Indonesia ketika terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi sehingga tidak terjerembab dalam “gombalisasi”. Oleh karena itu mencari obat untuk kesembuhan ibu pertiwi bisa diperoleh dari bangsa Indonesia sendiri. Obat dari luar negeri, seperti IMF, bisa jadi malah dipalsukan.
Memang, akibat penyakit komplikasi itu, membuat segala sesuatu yang ada pada bangsa Indonesia tidak sampai. Ilmunya walaupun tinggi tidak sampai kepada kearifan, hukumnya tidak sampai pada keadilan, ekonominya tidak sampai pada pemerataan, persatuannya tidak sampai pada kekokohan, kekuasaannya tidak sampai pada pengayoman, kepimpinannya tidak sampai pada keteladanan
Lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sumpah Pemuda, lambang negara Republik Indonesia, dasar negara, tujuan negara, sifat negara, pembukaan undang-undang dasar ’45, semua itu menyimpan nilai-nilai luhur untuk menyelamatkan Indonesia.
Dan memang, bagi generasi penikmat yang tidak bersyukur mungkin bertanya-tanya untuk apa Sumpah Pemuda & memaknai lagu kebangsaan Indonesia Raya?? Peristiwa itu malah dianggap angin lalu yang tidak relevan diperingati di jaman sekarang. Hanya membuang biaya banyak tanpa ada manfaatnya.
Para pendahulu bangsa Indonesia sebenarnya sudah mendidik kita agar menjadi manusia yang bersyukur kepada sesama manusia. Satu contoh di dalam pembukaan UUD 45 alenia ke dua berbunyi : “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Disitu ada kata-kata; perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan kemerdekaan berlangsung sejak tahun 1511 oleh raja Demak, Pati Unus melawan Portugis sampai tertangkapnya Pangeran Diponegoro tahun 1830. Dari kata-kata perjuangan kemerdekaan itu timbul deretan nama pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan lalu dilanjutkan dengan pergerakan kemerdekaan sampai tahun 1945. Ada pergerakan di bidang politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, dan lain-lain. Dari situ timbul pula nama-nama pahlawan pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Untuk menghargai jasa para pahlawan, nama-nama mereka dijadikan nama jalan-jalan besar di Ibukota, provinsi, kabupaten dan lain-lain. Mengapa tidak dijadikan nama gedung-gedung saja? Itu pendidikan.
Agar jutaan manusia yang setiap hari lalu lalang melewati jalan nama pahlawan itu, ingat pengorbanan dan perjuangan yang telah ditempuh.
Sayangnya, tidak banyak orang yang lalu lalang itu menyadarinya.
Sumpah adalah kata-kata yang mengandung makna besar. Sejak tahun 686 M sampai tahun 1945 sumpah yang bersifat nasional sudah terjadi 4 kali dan efek yang ditimbulkan sangat dahsyat.
Tahun 686 Sumpah yang diucapkan Syailendra telah mengantarkan kebesaran Negara Indonesia pertama yaitu negara Sriwijaya, daerah kekuasaannya meliputi P
Filipina dan Srilanka.
Sumpah Garuda, sumpahnya burung Garuda. Bagaimana burung bersumpah ? Burung adalah lambang jiwa, Garuda lambang besar – Sumpahnya jiwa yang besar. Seperti terdapat pada relief dinding candi Kidal di Malang. Yang mana di candi itu disimpan abu pembakaran raja Anusapati yang wafat pada tahun 1245. Dikisahkan, Garuda memiliki seorang ibu namanya Winoto tapi sedang diperbudak. Garuda bisa menyelamatkan ibunya bila ia bisa merebut guci yang berisi air Amerta. Garuda akhirnya bersumpah untuk berbakti pada ibunya – Winoto – ibu Pertiwi.
Dengan tekad jiwa besar dan segala kemampuan yang dimiliki, Garuda bisa merebut guci itu dan membebaskan ibunya dari perbudakan. Ini cerita sejarah yang mengandung falsafah yang sebenarnya juga ada dalam lagu Indonesia Raya, “Indonesia tumpah darahku”. Tumpah darah itu merah dan putih. Merah artinya berani, putih artinya suci.
Berani karena benar, bukan karena tabiat seperti singa, karena kepepet lalu menggerogoti uang negara. Yang salah saja berani, mengapa yang benar tidak ? Membela tanah tumpah darah. Disanalah aku berdiri tegak, berdiri imannya, pendiriannya. Untuk menjadi pandu ibuku. Itu sumpah. Makanya kalau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dilakukan sambil berdiri. Berdiri itu artinya bersumpah mengamalkan isi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan itu.
Sumpah nasional yang ketiga tahun 1331, Sumpah Palapa – sumpah Maha Patih Gajah Mada. Setelah diucapkan, sumpah itu lalu diperjuangkan selama 2 tahun lebih, kemudian timbul kejayaan Majapahit pada jaman Hayam Wuruk.
Berselang 597 tahun kemudian terjadi Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Dan berselang 17 tahun dari Sumpah Pemuda muncul Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peristiwa sumpah pemuda telah memunculkan seorang tokoh besar, pencipta lagu Indonesia Raya, WR. Supratman. Seorang pemuda berbadan kurus kering, fakir miskin, sampai wafat di Surabaya pada usia 35 tahun belum mempunyai rumah.
Tapi kefakiran, kekurusan yang menyelimuti badannya itu tersimpan jiwa yang besar. Kebesaran jiwa itu dituliskan di atas secarik kertas sehingga menjadi lagu Kebangsaan Indonesia. Menjadi satu-satunya lagu yang keramat di antara ribuan lagu di Indonesia saat itu dan banyak yang sampai meneteskan air mata pada saat diperdengarkan pertama kali.
Satu-satunya lagu yang harus dinyanyikan dengan cara berdiri. Satu-satunya lagu yang ditakuti penjajah dan dilarang selama 14 tahun. Satu-satunya lagu yang masuk konstituti Negara Republik Indonesia (bab 15 pasal 36 b lagu Indonesia Raya). Satu-satunya lagu yang mengantarkan WR Supratman menjadi Pahlawan Nasional. Lagu yang senantiasa dikenang di seluruh Indonesia.
Satu-satunya lagu yang tidak sembarangan cara menyanyikannya. Ada aturan, yang aturan itu sudah masuk lembaga negara. Bukankah itu menunjukkan kebesaran jiwa untuk melawan penjajah?
Lagu itu lahir pada malam yang sama dengan sumpah pemuda. Sekarang kita tinggal menikmati dan mensyukuri. Apakah kita tidak malu melalui jalan-jalan di Ibukota, Provinsi atau Kabupaten yang banyak menggunakan nama pahlawan-pahlawan itu kalau kita tidak bersyukur dan tidak ada rasa cinta terhadap negeri kita sendiri.
Penulis : PANJI DHARMA PUTRA – Kader Gerakan Indonesia Raya Kabupaten Semarang
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan